Umar bin Khaththab Bertemu dengan Nabi SAW

Umar bin Khaththab Bertemu dengan Nabi SAW

Pada waktu itu pintu rumah shahabat Al-Arqam tertutup, karena rumah itu sedang dipergunakan oleh Nabi SAW untuk mengajar, sebab pada masa itu cara beliau mengajar pengikut-pengikutnya masih dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh kaum musyrikin.
Setelah Umar bin Khaththab tiba di rumah shahabat Al-Arqam, dengan membawa pedang yang masih terhunus, ia segera mengetok pintunya terus-menerus dengan sekeras-kerasnya.
Dari dalam, penjaga pintu itu bertanya : "Siapa itu ?".
Umar menjawab dengan suara keras : "Ibnul Khaththab !".
Penjaga pintu itu lalu mengintai dari dalam, untuk membuktikan, betulkah yang mengetok pintu itu Umar bin Khaththab. Ternyata betul bahwa yang mengetok pintu itu Umar bin Khaththab dengan membawa pedang terhunus. Lantaran itu penjaga pintu itu tidak mau membukakan pintu, karena ia mengira bahwa kedatangan Umar bin Khaththab itu akan mengamuk, dan boleh jadi akan membunuh Nabi Muhammad SAW. Maka dari itu penjaga pintu lebih dulu memberitahukan kedatangan Umar itu kepada Nabi SAW. Pada saat itu Umar tidak sabar lagi menunggu lebih lama, dan karenanya pintu itu diketoknya lagi dengan sekeras-kerasnya.
Para shahabat yang ada di dalam rumah itu tidak ada seorangpun yang berani membukakan pintu. Karena maklumlah, bahwa mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Umar akan menjadi seorang kawan yang terkemuka bagi mereka, bahkan mereka beranggapan dan menyangka bahwa Umar bin Khaththab masih menjadi lawan yang terbesar, apalagi kedatangannya itu dengan membawa pedang terhunus. Pada saat itu para shahabat yang ada di dalam rumah shahabat Al-Arqam itu sangat mengkhawatirkan diri Nabi SAW.

Kemudian, setelah Nabi SAW mengetahui kedatangan Umar bin Khaththab, maka beliau bersabda : "Bukakan pintu ! Biarkan Umar masuk, semoga Allah menjadikannya seorang yang baik dan memberi petunjuk kepadanya".
Kemudian shahabat Hamzah (paman Nabi SAW) berkata : "Bukakanlah pintu itu, persilahkan Umar masuk, mungkin Allah akan memberikan kebaikan kepadanya dengan mengikut seruan Muhammad, memeluk Islam dan tunduk di bawah panji-panji Kalimah Tauhid. Tetapi jika kedatangannya bukan demikian, maka akulah yang akan mengha-dapinya dan akulah yang akan menghabisi nyawanya".
Tetapi penjaga pintu itu masih belum mau membukakan pintu, karena dia sangat takut. Oleh sebab itu shahabat Hamzah dan shahabat Zubair lalu mendekati pintu. Kemudian barulah penjaga pintu itu berani membuka pintu, dan ketika Umar masuk, dengan segera tangan kanannya dipegang oleh Hamzah dan tangan kirinya dipegang oleh Zubair. Dan setelah Umar bin Khaththab mendekati tempat duduk Nabi SAW, maka seketika itu juga badannya gemetar, karena takutnya melihat wajah Nabi SAW. Kemudian beliau bersabda kepada kedua shahabat tadi : "Lepaskan Umar!" Maka oleh kedua shahabat itu Umar bin Khaththab dilepaskan dengan segera dan lalu didudukkan dihadapan Nabi SAW. Kemudian beliau menarik pakaian Umar dengan bertanya :
مَا جَاءَ بِكَ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ ؟
"Dengan maksud apa kedatanganmu kemari, hai Ibnul Khaththab ?"
فَوَ اللهِ مَا اَرَى اَنْ تَنْتَهِيَ حَتَّى يُنَزِّلَ اللهُ بِكَ قَارِعَةً.
"Demi Allah ! Aku tidak menyangka bahwa engkau akan berhenti dari perbuatanmu sehingga Allah menurunkan sesuatu yang sangat menggon-cangkanmu".
Umar bin Khaththab menjawab dengan tegas :
جِئْتُ َلاُوْمِنُ بِاللهِ وَرَسُوْلــِهِ وَ بِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللهِ.
"Aku datang kemari demi sesungguhnya aku akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada apa-apa yang telah datang dari sisi Allah".
Oleh sebab  itu Nabi SAW lalu menepuk dada Umar dengan tangan kanannya tiga kali dan bersabda :
اَسْلِمْ يـَا ابـْنَ اْلخَطَّابِ، اَللّهُمَّ اهْدِ قَلْبَهُ ! اَللّهُمَّ اهْدِ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ ! اَللّهُمَّ اخْرُجْ مَا فِى صَدْرِ عُمَرَ مِنْ غِلٍّ وَابـْدِلْهُ اِيـْمَانًا !
"Islamlah engkau hai Umar bin Khaththab ! Ya Allah, tunjukilah hati-nya ! Ya Allah, tunjukilah Umar bin Khaththab ! Ya Allah, keluarkanlah apa-apa yang ada di dalam dada Umar dari pada perasaan benci, dan gantilah dengan iman !".
Selanjutnya Nabi SAW bersabda :
اَ لَمْ يَأْنِ لَكَ يَاعُمَرَ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ؟
"Apakah belum masanya bagimu Umar, bahwa engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu Rasul Allah ?".
Lalu seketika itu juga Umar membaca syahadat di hadapan Nabi SAW:
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّكَ رَّسُوْلُ اللهِ.
"Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya engkau (Muhammad) adalah Rasul Allah".
Setelah Umar bin Khaththab membaca syahadat, lalu Nabi SAW membaca takbir tiga kali.
اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ ! اَللهُ اَكْــبَرُ !
"Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar ! Allah Maha Besar !"
Kemudian sekalian kaum Muslimin yang ada di dalam rumah itu membaca takbir juga bersama-sama dengan suara sekeras-kerasnya.
Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi SAW :
اَوَ مَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنهُ وَجَعَلْنَالَه نُوْرًا يَّمْشِيْ بِه فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُه فِى الظُّـلُمتِ لَـيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا، كَذلِكَ زُيـِّنَ لِلْكـفِرِيـْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ. الانعام:122
"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat ke luar dari padanya ? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan". [Al-An'am : 122]
7. Umar bin Khaththab Usul Kepada Nabi SAW
Dengan Islamnya Umar bin Khaththab dikala itu, kaum Muslimin sangat gembira, kegembiraan yang tidak terhingga, karena dipandangnya hal itu suatu rahmat yang besar dari Allah.
Kemudian Umar bin Khaththab mengemukakan usul kepada Nabi SAW, dia berkata :
يـَا رَسُوْلَ اللهِ ! اَ لَسْنَا عَلَى اْلحَقِّ وَ اِنْ مُتْنَا وَ اِنْ حُيِّيْنَا؟
"Ya Rasulullah ! Bukankah kita di atas kebenaran, meskipun kita mati ataupun hidup ?".
Nabi SAW menjawab :
بَلَى وَ الَّذِىْ نَفْسِى بِيَدِهِ اِنَّكُمْ عَلَى اْلحَقِّ وَ اِنْ مُتُّمْ وَ اِنْ حُيِّيْتُمْ.
"Ya, betul, demi Tuhan yang diriku ada di tangan-Nya, memang sesungguhnya kamu semua di atas kebenaran, sekalipun kamu mati ataupun hidup".
Umar berkata :
عَلاَمَ نُخْفِى دِيْنَنَا يـَارَسُوْلَ اللهِ، وَ نَحْنُ عَلَىاْلحَقِّ وَهُمْ عَلَى اْلبَاطِلِ؟
"Mengapa kita menyembunyikan agama kita, ya Rasulullah ? Padahal kita di atas kebenaran dan mereka diatas kesalahan ?".
Nabi SAW menjawab :
اِنـَّا قَلِيْلٌ، وَقَدْ رَأَيـْتَ مَا لَـقَـيْنَا يـَا عُمَرُ !
"Sesungguhnya kita masih sedikit, dan engkau telah melihat sendiri apa yang telah kita dapati, hai Umar ?".
Umar berkata lagi :
يـَا رَسُوْلَ اللهِ، لاَ يَنْبَغِى اَنْ تَكْـتُمَ هذَا الدِّيـْنَ. اَظْهِرْ دِيْنَكَ. فَوَ اللهِ لاَ يَعْبُدُ اللهَ سِرًّا بَعْدَ اْليَوْمِ. وَ الَّذِيْ بَعَثَكَ بِاْلحَقِّ مَا بَقِيَ مَجْلِسٌ كــُنْتُ اَجْلِسُ فِيْهِ بِاْلكُـفْرِ اِلاَّ اَظْهَرْتُ فِيْهِ بِاْلاِسْلاَمِ غَيْرَ هَائِبٍ وَلاَ خَائِـفٍ.
"Ya Rasulullah tidaklah sepatutnya, jika engkau menyembunyikan agama (Islam) ini, tampakkanlah agama ini ! Maka demi Allah, tidak pantas menyembah kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi sesudah hari ini. Demi Tuhan yang mengutus engkau dengan kebenaran ! Tidak ketinggalan disatu majelis yang dahulu aku duduk di dalamnya dengan kekufuran, melainkah haruslah aku menampakkan didalamnya dengan Islam, dengan tidak gentar dan tidak takut".
Nabi SAW mengetahui bahwa Umar sungguh-sungguh akan membela agama Allah dan juga ia ingin mendatangi semua pemuka/kepala kaum musyrikin Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lain-lainnya, dengan sengaja untuk menunjukkan keislamannya kepada mereka.
Oleh sebab itu maka Nabi SAW memperkenankan Umar untuk melaksanakan kehendak-kehendaknya, asalkan kehendak-kehendaknya itu tidak dilarang oleh Allah.
8. Pawai Kaum Muslimin Yang  Pertama Kali
Keesokan harinya, di waktu pagi Umar bin Khaththab datang ke rumah shahabat Al-Arqam, disitu ia menanti-nanti kedatangan kaum Muslimin di rumah itu. Karena kaum Muslimin biasa setiap pagi datang di rumah Al-Arqam untuk menerima pelajaran dari Nabi SAW.
Pada hari itu, setelah kaum Muslimin datang ke rumah Al-Arqam, lalu dikumpulkan dan disuruh berbaris oleh Umar bin Khaththab. Kemudian setelah Nabi SAW hadir di tempat itu, dan kaum Muslimin sudah berbaris, maka Umar bin Khaththab meminta Nabi SAW supaya berjalan di muka barisan, dan di belakang beliau adalah Umar bin Khaththab bersama Hamzah bin Abdul Muththalib. Memang kedua shahabat inilah yang mengepalai pawai kaum Muslimin tersebut, dan kedua shahabat itu berjalan dengan menyelempangkan panahnya sambil membawa pedang terhunus, dan dalam pawai itu, kedua-duanya membaca :
لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ !
Juga kaum Muslimin di belakangnya membacanya bersama-sama. Dan Umar berkata dengan suara keras : "Barangsiapa yang berani mengganggu salah seorang yang ada di belakangku, maka tentu pedangku ini akan memotong lehernya".
Demikianlah selama berjalan itu Umar senantiasa berkata semacam itu.
Pawai (arak-arakan) ini dimulai dari rumah shahabat Al-Arqam, dan berjalan melalui rumah Umar sendiri, kemudian melewati rumah Nabi SAW dan terus berjalan mengelilingi kampung-kampung yang berdekatan dengan Masjid Al-Haram, lantas masuk ke dalam masjid dan berthawaf (mengelilingi) Ka'bah bersama-sama sampai siang hari;  kemudian mengerjakan shalat di samping Ka'bah dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan suara yang keras, diperdengarkan kepada kaum Musyrikin. Sesudah shalat akhirnya pawai itu diakhiri dengan selamat.
Pada waktu itu, kaum Musyrikin tercengang melihat adanya pawai yang diadakan oleh kaum Muslimin yang dipimpin oleh Umar bin Khaththab itu, dan mereka kecewa dan menyesalkan Umar bin Khaththab.
Meskipun demikian, tak seorangpun dari mereka yang berani mengganggu; jangankan sampai mengganggu, mendekat saja tidak berani.
Demikianlah riwayat Islamnya Umar bin Khaththab. Dan dengan masuk Islamnya Umar bin Khaththab, seketika itu juga garis perjuangan kaum Muslimin dalam menghadapi kaum Musyrikin berubah sedemikian rupa. Dan juga karena sebelum masuk Islamnya Umar bin Khaththab, telah masuk Islam pula seorang shahabat Nabi yang gagah berani yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib.
Dengan ini benarlah apabila Nabi SAW pernah bersabda :
اِنَّ اللهَ جَعَلَ اْلحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَ قَلْـبِهِ. الترمذى عن ابن عمر
"Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran itu atas lisan Umar dan hatinya". [HR. Tirmidzi, dari Ibnu Umar, V : 280 ].
اِنِّى َلاَنــْظُرُ اِلَى شَيَاطِيْنِ اْلجِنِّ وَاْلاِنْسِ قَدْ فَرُّوْا مِنْ عُمَرَ. الترمذى عن عائشة
"Sesungguhnya aku (Nabi) sungguh melihat bahwa syethan-syetan jin dan syetan-syetan manusia melarikan diri dari Umar".
[HR. Tirmidzi dari Aisyah, V : 284]
لَـقَدْ كَانَ فِيْمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِى اِسْرَائِيْلَ رِجَالٌ يُكَـلَّمُوْنَ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَكُـوْنُوْا اَنــْبِيَاءَ فَاِنْ يَكُـنْ مِنْ اُمـَّتِى مِنْهُمْ اَحَدٌ فَعُمَرُ. البخارى عن ابى هريرة
"Sesungguhnya diantara orang-orang sebelummu dahulu dari kaum Bani Israil, ada orang-orang laki-laki yang diajak bicara oleh Allah, padahal mereka itu bukan Nabi-nabi; maka jika ada diantara ummatku orang seperti orang-orang itu, maka Umar-lah". [HR. Bukhari dari Abu Hurairah, IV : 200]        


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Umar bin Khaththab Bertemu dengan Nabi SAW"

Posting Komentar