3/10/2013

Ta'rif As-Sunnah/Al-Hadits Menurut Istilah Syara'

Ta'rif As-Sunnah/Al-Hadits Menurut Istilah Syara'
Para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqih memberikan ta'rif kata "SUNNAH/HADITS", demikian :
مَاجَاءَ عَنِ النَّبِيِّ ص مِنْ اَقْوَالِهِ وَاَفْعَالِهِ وَ تَقْرِيْرِهِ وَمَاهَمَّ بِفِعْلِهِ.
"Apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya dan taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya".
Singkatnya, "SUNNAH/HADITS" itu ~sepanjang istilah ahli hadits dan ahli ushul fiqih~ ialah : Sabda-sabda Nabi SAW, perbuatan-perbuatan Nabi SAW dan iqrar (taqrir) Nabi SAW, yaitu perbuatan seorang shahabat Nabi yang beliau ketahui, tetapi beliau tidak menegur atau menyalahkannya. Yang semuanya itu bersangkut paut dengan beberapa hikmah dan hukum-hukum yang berpokok dalam Al-Qur'an.
Imam Asy-Syathiby berkata dalam kitab Al-Muwafaqat : Kata "As-Sunnah" itu dipakai juga untuk nama bagi segala apa yang tidak diterangkan di dalam Al-Qur'an, baik menjadi keterangan bagi isi Al-Qur'an ataupun tidak. Dan dipakai juga sebagai lawannya "bid'ah". Seperti dikatakan : "Si Fulan itu ada di dalam sunnah". Yakni : ia mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang pernah dikerjakan oleh Nabi SAW, baik pekerjaan itu ada nash-nya di dalam Al-Qur'an ataupun tidak. Dan seperti dikatakan juga : "Si Fulan dalam bid'ah". Yakni : Apabila ia telah mengerjakan pekerjaan yang berlawanan atau menyalahi akan pekerjaan yang pernah dikerjakan oleh Nabi SAW.
Selanjutnya Asy-Syathibi berkata : "Dan kata "sunnah" ini dipakai juga menjadi nama bagi pekerjaan atau perbuatan para shahabat Nabi, baik pekerjaan itu terdapat menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah ataupun tidak. Karena adanya pekerjaan dengan mencontoh "sunnah", atau karena ijtihad mereka dengan disepakati keputusan para khalifah mereka, yang dikala itu sudah tidak dibantah oleh seorangpun dari mereka. Pemakaian istilah ini disandarkan atas sabda Nabi SAW yang bunyinya :
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِّيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ. ابو داود
"Hendaklah kamu berpegang teguh akan sunnahku dan sunnah para khalifah yang rasyidin, yang sama mengikuti petunjuk". [HR. Abu Dawud].
Fungsi As-Sunnah/Al-Hadits
Telah diketahui dan diyakini oleh segenap ummat Islam, bahwa Nabi Muhammad SAW itu diutus sebagai "muballigh" dari Allah SWT. Firman Allah yang menunjukkan demikian, antara lain :
يـاَيــُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا اُنــْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبـِّـكَ. المائدة:67
"Hai Rasul, sampaikanlah apa-apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". [Al-Maidah : 67].
Dan juga sebagai "mubayyin" (yang menerangkan) tentang yang dikehendaki oleh Allah, sebagaimana dinyatakan dengan firman-Nya :
وَاَنــْزَلـْنَـآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لـِتُـبَـيِّنَ  لـِلـنَّـاسِ مَا نُـزِّلَ اِلَـيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يـَتَـفَكَّرُوْنَ.
Dan Kami (Allah) telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muham-mad), supaya kamu menerangkan kepada segenap manusia apa yang diturunkan kepada mereka. Dan supaya mereka memikirkan. [An-Nahl : 44].
Sehubungan dengan itu maka Nabi Muhammad SAW menerangkan Al-Qur'an itu ada kalanya dengan perbuatan, adakalanya dengan perkataan, adakalanya dengan iqrar, dan adakalanya dengan perbuatan dan perkataan. Seperti urusan perintah shalat, beliau mengerjakan dan memerintahkannya, dengan sabdanya :
صَلُّـْوْا كَمَا رَأَيـْـتُمُوْنِى أُصَلِّى. البخارى ومسـلم
"Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihat aku shalat".  [HR Bukhari - Muslim]
Beliau mengerjakan ibadah hajji dan bersabda :
قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ اْلحَجَّ فَحُجُّوْا. احمد و مسـلم و النسائى
"Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian hajji, maka berhajjilah"  [HR. Ahmad, Muslim dan Nasai].
Dengan ini jelaslah bahwa "sunnah" itu yang menerangkan isi Al-Qur'an, menjelaskan kesimpulannya, membatasi muthlaqnya dan menguraikan kemusykilan (kesulitan)nya. Maka dari itu tidak ada sesuatu yang terdapat di dalam sunnah, melainkan Al-Qur'an telah menunjukkan-nya dengan petunjuk yang singkat ataupun yang panjang; dan petunjuk-petunjuk itu dengan beberapa cara, baik dengan ijmali maupun dengan tafshili.
Dengan perkataan lain; Pada tiap-tiap "sunnah" itu sudah barang tentu ada ayat yang menunjukkan atas sunnah itu, baik dengan cara ringkas maupun dengan cara jelas.
Dan di antaranya ada yang umum sekali maksudnya, yaitu ayat yang memerintahkan kita (ummat Islam) mengikut Rasulullah SAW seperti ayat :
وَمَا اتكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهيكُمْ عَنْهُ فَانْـتَـهُوْا. الحشر:7
"Dan apa-apa yang telah didatangkan Rasul kepadamu, maka ambillah dia; dan apa yang kamu telah dicegah mengerjakannya, maka tinggalkanlah". [QS. Al-Hasyr : 7].
Imam Sy-Syathibi berkata : Di dalamKitab Al-Muwaffaqat : "Derajat atau tingkatan "sunnah" itu ada di bawah atau di belakang Al-Qur'an. Adapun keterangannya sebagai beriktu :
Pertama, karena Al-Qur'an itu diyakini kebenarannya dengan tegas, sedang As-Sunnah masih di dalam dhan (persangkaan kuat) kebenarannya. Jelasnya : Al-Qur'an itu dari segi ketetapan dan kenyataannya adalah diyakini kedatangannya, sedang As-Sunnah itu kebanyakan dari dhan, kecuali yang bertingkatan mutawatir. Oleh sebab itu, yang diyakini dengan tegas harus didahulukan daripada yang  madhnun. Dengan demikian maka wajiblah mendahulukan Al-Qur'an daripada As-Sunnah.
Kedua, As-Sunnah itu adakalanya untuk menjadi keterangan bagi Al-Qur'an, dan ada kalanya untuk menambah keterangan saja. Maka dengan sendirinya As-Sunnah terkemudian dari Al-Qur'an. Yakni : Yang menerangkan itu terkemudian dari yang diterangkan. Maka jika ia (sunnah) menjadi keterangan, tentu saja ia menjadi yang kedua sesudah yang diterangkan. Dengan ini menunjukkan pula, bahwa Al-Qur'an harus didahulukan.
Ketiga, beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan demikian, antara lain seperti hadits Rasulullah SAW ketika mengutus shahabat Mu'adz RA. untuk menjadi pemimpin agama di negeri Yaman, dia ditanya oleh Rasulullah SAW :
قَالَ: بِمَ تَحْكُمُ ؟ قَالَ: بِكِتَابِ اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَـمْ تَجِدْ ؟ قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُوْلِ  اللهِ. قَالَ: فَاِنْ لَـمْ تَجِدْ ؟ قَالَ: اَجْتَهِدُ رَأْيِى.
Nabi SAW bertanya : "Dengan apa engkau menghukumi ?" Jawab Mu'adz : "Dengan Kitab Allah". Nabi SAW berkata : "Jikalau tidak kamu dapati ?" Jawab Mu'adz : "Dengan sunnah Rasulullah". Tanya Nabi SAW : "Jika tidak kamu dapati ?" Jawab Mu'adz : "Saya berijtihad dengan fikiran saya".
Khalifah Umar bin Khaththab RA pernah mengirim surat kepada Syuraih, ketika ia menjabat qadli, yang bunyinya :
اِذَا اَتيكَ اَمْرٌ فَاقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ. فَاِنْ اَتيكَ مَا لَيْسَ فِى كِتَابِ اللهِ فَاقْضِ ِبمَا سَنَّ فِيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ص
"Apabila datang kepadamu suatu urusan, maka hukumilah dengan apa yang ada di dalam Kitab Allah dan jika datang kepadamu apa yang tidak ada di dalam Kitab Allah, maka hukumilah dengan apa yang pernah dihukumi oleh Rasulullah SAW".
Dalam riwayat lain bunyi surat itu demikian :
اُنــْظُرْ مَا تَبَيَّنَ لَكَ فِى كِتَابِ اللهِ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْهُ اَحَدًا، وَمَا لَـمْ يَتَبَيَّنْ لَكَ فِى كِتَابِ اللهِ فَاتَّبِعْ فِيْهِ سُـنَّــةَ رَسُوْلِ اللهِ ص
"Lihatlah apa yang terang bagimu di dalam Kitabullah, maka jangan engkau bertanya kepada seseorang tentang urusan yang telah terang itu; dan barang apa yang tidak terang bagimu di dalam kitabullah, maka ikutilah sunnah Rasulullah SAW".
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّهُ كَانَ اِذَا سُئِلَ عَنْ شَيْءٍ فَاِنْ كَانَ فِى كِتَابِ اللهِ قَالَ بِهِ، وَاِنْ لَـمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ وَكَانَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ  ص قَالَ بِهِ.
Dari Ibnu 'Abbas RA : Sesungguhnya apabila ia ditanya tentang sesuatu, jika ada di dalam kitabullah, maka ia jawab dengannya; dan jika tidak ada di dalam Kitabullah dan ada dari Rasulullah SAW, maka ia jawab dengannya".
Kata Ibnu Mas'ud RA. :
مَنِ ابْـتَـلَى مِنْكُمْ بِقَضَاءٍ فَلْيَقْضِ ِبمَا فِى كِتَابِ اللهِ، فَاِنْ لَـمْ يَكُنْ فِى كِتَابِ اللهِ فَلْيَقْضِ ِبمَا قَضَى بِهِ رَسُوْلُ  اللهِ  
"Barangsiapa di antara kamu diuji dengan hukum, maka hendaklah ia menghukumi dengan apa yang ada pada Kitabullah; dan jika tidak ada di dalam kitabullah, maka hendaklah ia menghukumi dengan apa yang telah dihukumi oleh Rasulullah SAW".
Dan lain-lain lagi dari pesan para shahabat dan para 'ulama salaf yang seperti itu.
Ringkasnya : Tidak diragukan lagi, bahwa As-Sunnah (Al-Hadits) itu sumber yang kedua bagi hukum-hukum Islam. Dia-lah sumber yang paling luas cabangnya, paling lengkap susunan atau undang-undangnya. Al-Qur'an mengandung qa'idah-qa'idah yang umum dan hukum-hukum kully (keseluruhan). Memang Al-Qur'an bersifat demikian, karena menjadi kitab undang-undang yang kekal dan abadi. Maka As-Sunnah (Al-Hadits) yang memberikan perhatiannya, yang penuh untuk menjelaskan kandungan Al-Qur'an. Oleh sebab itu, maka tidak boleh tentang urusan istinbath (pengambilan) hukum-hukum Islam, orang mencukupkan Al-Qur'an saja, dengan tidak memerlukan kepada penjelasan daripada As-Sunnah.
Berkenaan dengan kedudukan sunnah Rasul SAW ini, Imam Syafi'i berkata :
كُلُّ مَا حَكَمَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ     فَهُوَ ِممَّا فَهِمَهُ مِنَ اْلقُرْآنِ.
"Segala apa yang telah dihukumkan oleh Rasulullah SAW itu, semuanya dari apa-apa yang difahamkannya dari Al-Qur'an".
Dan juga beliau berkata :
وَجَمِيْعُ السُّنَّةِ شَرْحٌ  لِلْقُرْآنِ.
"Dan semua sunnah itu adalah penjelasan bagi Al-Qur'an".
Dalam kitab "Ar-Risalah", Imam Asy-Syafi'i dengan panjang lebar menguraikan tentang keterangan dan kedudukan As-Sunnah terhadap Al-Qur'an. Kalau diambil kesimpulannya adalah sebagai berikut :
1.  As-Sunnah menjadi Bayan Tafshil, keterangan yang menjelaskan ayat-ayat yang mujmal (ringkas).
2.  As-Sunnah menjadi Bayan Takhshish, yaitu keterangan yang menentukan sesuatu dari yang umum.
3.  As-Sunnah menjadi Bayan Ta'yin, yaitu keterangan yang menentukan mana yang dimaksud dari dua atau tiga macam kemungkinan pengertian.
4.  Di samping itu kadang-kadang As-Sunnah mendatangkan suatu hukum yang tidak didapati pokoknya di dalam Al-Qur'an.
5.  Dan dengan As-Sunnah itu dapat dijalankan dalil untuk nasikh-mansukh. Yakni : Menentukan mana ayat yang dinasikhkan dan mana yang dimansukhkan, dari ayat-ayat yang kelihatannya berlawanan.
Kata Imam Ahmad bin Hanbal :
اَلسُّنَّةُ عِنْدَنَا آثَارُ رَسُوْلِ اللهِ   . اَلسُّنَّةُ تَفْسِيْرُ اْلقُرْآنِ وَهِيَ دَلاَئِلُ اْلقُرْآنِ.
"As-Sunnah itu bagi kami ialah atsar-atsar Rasulullah SAW, dan sunnah itu tafsir (keterangan) bagi Al-Qur'an dan ia pula yang menunjuki Al-Qur'an".
Juga beliau pernah berkata, "Bahwasanya mencari hukum di dalam Al-Qur'an, haruslah dengan melalui As-Sunnah; dan mencari agama ini adalah dengan melalui jalan As-Sunnah pula. Jalan yang sudah dibentangkan untuk memperoleh fiqih Islam dan syari'atnya yang besar, ialah As-Sunnah. Orang-orang yang hanya memahamkan Al-Qur'an saja dengan tidak memerlukan bantuan As-Sunnah dalam penjelasannya dan dalam mengetahui syari'atnya, akan sesat, tidak mengetahui jalan dan tidak akan sampai kepada tujuan yang dikehendaki".

Cara Melakukan Hukum-hukum Al-Qur'an.

Hukum-hukum yang tersebut di dalam Al-Qur'an itu berlakunya bagi manusia ada yang dengan jalan "THALAB (tuntutan)" dan ada yang  "TAKHYIR (boleh memilih)".
Adapun yang dimaksud dengan "THALAB" (tuntutan) itu ada dua macam : Tuntutan mengerjakan dan tuntutan meninggalkan.
Di dalam Al-Qur'an ada terdapat tuntutan supaya dikerjakan dengan berbagai jalan atau cara. Sebagai contoh adalah sebagai berikut :
1.    Menyuruh dengan berterus terang seperti :
اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَائِ ذِى الْقُرْبى. النحل:90
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat. [An-Nahl : 90]
اِنَّ الله يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوْا اْلاَمنتِ اِلَى اَهْلِهَا، وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ. النساء:58
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. [An-Nisa' : 58]
2.    Memberitahukan perbuatan itu diwajibkan atas orang yang diseru seperti :
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلَى. البقرة:178
Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. [Al-Baqarah : 178]
كُتِبَ عَلَيْكُمُ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ. البقرة:180
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwashiatlah. [Al-Baqarah : 180]
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ. البقرة:183
Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu". [Al-Baqarah : 183]
اِنَّ الصَّلوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتبًا مَوْقُوْتا. النساء:103
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". [An-Nisa' : 103]
3.    Memberitahukan bahwa perbuatan itu diwajibkan atas ummat manusia atau segolongan ummat manusia, seperti :
وَللهِ عِلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً. ال عمران:97
Mengerjakan hajji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. [Ali 'Imron : 97]
4.    Menanggungkan perbuatan yang ditentukan itu atas orang yang dituntut mengerjakannya, seperti :
وَالْمُطَلَّقتُ يَتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلثَةَ قُرُوْءٍ. البقرة:228
Wanita-wanita yang dithalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. [Al-Baqarah : 228]
وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّعَشْرًا. البقرة:234
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. [Al-Baqarah : 234]
Cara seperti ini kadang-kadang diikuti dengan tuntutan agak keras dan kadang-kadang dengan tuntutan yang menunjukkan tidak keras, seperti :
وَالْوَالِدتُ يُرْضِعْنَ اَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُتِمَّ رَضَاعَةً. وَ عَلَى الْمَوْلُوْدِ لَه رِزْقُهُنَّ وَقِسْوَتُهُنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ. البقرة:233
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para itu dengan cara yang ma'ruf. [Al-Baqarah : 233]
5.    Tuntutan itu disebutkan dengan kalimah fi'il amr atau fi'il mudhari' yang disertai huruf lam amr, seperti :
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلوةِ الْوُسْطى وَقُوْمُوْا للهِ قنِتِيْنَ. البقرة:238
Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. [Al-Baqarah : 238]
ثُمَّ لْيَقْضُوْا تَفَثَهُمْ وَلْيُوْفُوْا نُذُوْرَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوْا بِاْلبَيْتِ الْعَتِيْقِ. الحج:29
Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). [Al-Hajj : 29]
6.    Menyebutkan dengan tegas dengan perkataan fardlu, seperti :
قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِى اَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانِهِمْ. الاحزاب:50
Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki. [Al-Ahzab : 50]
7.    Perbuatan itu disebutkan sebagai jawaban syarat, seperti :
فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلاَ تَحْلِقُوْا رُءُ وْسَكُمْ حَتّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّه. فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِه اَذًى مّنْ رَّأْسِه فَفِدْيَةٌ مّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍ. البقرة:196
Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) qurban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya, (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedeqah atau berqurban. [Al-Baqarah : 196]
وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلى مَيْسَرَةٍ. البقرة:280
Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. [Al-Baqarah : 280]
8.    Perbuatan itu disertai dengan kata kebaikan, seperti :
وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْيَتمى قُلْ اِصْلاَحُ لَّهُمْ خَيْرٌ. البقرة:220
Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, "Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik. [Al Baqarah : 220]
9.    Perbuatan itu disertai dengan perjanjian seperti :
مَنْ ذَا الَّذِى يُقْرِضُ الله قَرْضًا حَسَنًا فَيُضعِفَه لَه اَضْعَافًا كَثِيْرَةً. البقرة:245
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. [Al-Baqarah : 245]
10.  Perbuatan itu diikuti dengan sifat birr atau yang berhubungan dengan birr yang berarti kebajikan, seperti :
وَلكِنَ الْبِرَّ مَنْ امَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلاخِرِ.... البقرة:177
Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian...... [Al-Baqarah 177]
وَلكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقى. البقرة:189
Akan tetapi kebaktian itu ialah kebaktian orang yang bertaqwa. [Al-Baqarah:189]
لَنْ تَنَالُوْا الْبِرَّ حَتّى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ. ال عمران:92
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. [Ali 'Imron : 92]
Demikianlah cara-cara tuntutan (perintah) Allah untuk perbuatan yang baik bagi ummat manusia.
Adapun tuntutan Allah untuk menjauhi (larangan) inipun dengan berbagai cara. Sebagai contah, adalah sebagai berikut :
1. Dengan berterus terang melarang perbuatan itu, seperti :
 وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. النحل:90
Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. [An-Nahl : 90]
2. Dengan menegaskan bahwa perbuatan itu haram, seperti :
قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ اْلحَقّ. الاعراف:33
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar". [Al-A'raf : 33]
قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ .... الانعام:151
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu ..........". [Al-An'aam : 151]
3. Dengan jalan bahwa perbuatan itu tidak halal, seperti :
لاَ يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النّسَاءَ كَرْهًا. النساء:19
Tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa. [An-Nisaa': 19]
وَلاَ يَحِلُّ لَهُنَّ اَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ الله فِى اَرْحَامِهِنَّ. القرة:228
Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya. [Al-Baqarah : 228]
4. Dengan jalan perkataan larangan (janganlah), yaitu fi'il mudhari' yang didahului dengan "Laa Nahy atau fi'il amr" yang menunjukkan atas tuntutan nahy (cegah), dan demikian juga dengan perkataan da' dan dzar, yang berarti "biarkanlah" atau "tinggalkanlah", seperti :
وَلاَ تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلاَّ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ. الانعام:152
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat. [Al-An'am : 152]
وَدَعْ اَذ ـهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ. الاحزاب:48
Biarkanlah gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. [Al-Ahzab : 48]
وَذَرُوْا ظَاهِرَ اْلاِثْمِ وَبَاطِنَه. الانعام:120
Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. [Al-An'am : 120]
5. Dengan jalan menyatakan bahwa dalam perbuatan itu tidak ada kebajikan, seperti:
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. البقرة:177
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan". [Al-Baqarah : 177]
وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا اْلبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا. البقرة:189
Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya. [Al-Baqarah : 189]
6. Dengan jalan menyebutkan bahwa perbuatan itu ditiadakan, seperti :
فَاِنِ انْتَهَوْا فَلاَ عُدْوَانَ اِلاَّ عَلَى الظّلِمِيْنَ. البقرة:193
Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim. [Al-Baqarah : 193]
فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ اْلحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالاً فِى اْلحَجّ. البقرة:197
Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan hajji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasiq dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan hajji. [Al-Baqarah : 197]
7. Dengan jalan menyebutkan perbuatan itu disertai menerima dosa bagi yang mengerjakannya, seperti :
فَمَنْ بَدَّلَه بَعْدَ مَا سَمِعَه فَاِنَّمَا اِثْمُه عَلَى الَّذِيْنَ يُبَدّلُوْنَه. البقرة:181
Maka barangsiapa yang mengubah washiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosa adalah bagi orang-orang yang mengubahnya.  [Al-Baqarah : 181]
8. Dengan menyebutkan perbuatan itu disertai dengan janji siksa (ancaman) atas orang yang mengerjakannya, seperti :
وَالَّذِيْنَ يَكْنِزُوْنَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُوْنَهَا فِى سَبِيْلِ اللهِ فَبَشّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ. التوبة:34
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. [At-Taubah : 34]
9. Dengan jalan menyebutkan perbuatan itu disifatkan dengan kata "syarr" yang berati jelek/jahat, seperti :
وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا اتــهُمُ الله مِنْ فَضْلِه هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ. ال عمران:180
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. [Ali Imran : 180].
Contoh-contoh tersebut itu menunjukkan cara-cara Allah melarang perbuatan-perbuatan atau pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Kemudian di bawah ini beberapa contoh cara-cara Allah memberi takhyir (boleh memilih) bagi manusia untuk dikerjakan atau tidaknya. Yakni : Jika orang mau mengerjakan, boleh mengerjakan; dan jika orang mau meninggalkan, boleh meninggalkan.
l.. Dengan jalan menyebutkan kata halal, seperti :
اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةَ اْلاَنْعَامِ. المائدة:1
Dihalalkan bagimu binatang ternak. [Al-Maidah : 1]
2. Dengan jalan disebutkan bahwa perbuatan itu tidak ada dosanya, seperti :
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلاَ عَادٍ  فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ. البقرة:173
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. [Al-Baqarah : 173]
فَمَنْ تَعَجَّلَ فِى يَوْمَيْنِ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقى. البقرة:203
Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertaqwa. [Al-Baqarah : 203]
3. Dengan jalan menyatakan tidak ada dosa, seperti :
لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلاَ عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَ هُنَّ. النور:58
Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. [An-Nuur : 58]
Demikianlah contoh-contoh tentang cara-cara Allah menjelaskan hukum-hukum-Nya yang tersebut di dalam Al-Qur'an, yaitu dengan cara tuntutan dan pilihan.

Tentang kehidupan Dunia

  TENTANG DUNIA فعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ...