Nabi SAW Mengobarkan Semangat Berperang.

 Nabi SAW Mengobarkan Semangat Berperang.
Setelah peperangan berlangsung dahsyat, maka Nabi SAW mengobarkan semangat berperang terhadap pasukannya. Beliau memberikan anjuran-anjuran yang dapat menimbulkan semangat membaja bagi tentara muslimin, agar mereka masing-masing tidak mundur dalam menghadapi lawan yang besar itu. Antara lain beliau bersabda :
وَ الَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يُقَاتِلُهُمُ اْليَوْمَ رَجُلٌ فَيُقْتَلُ صَابِرًا مُحْتَسِبًا مُقْبِلاً غَيْرَ مُدْبِرٍ اِلاَّ اَدْخَلَهُ اللهُ اْلجَنَّةَ. الكامل فى التاريخ 2:23
Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, pada hari ini tidaklah seseorang yang memerangi musuh dengan shabar, tahan sampai mati menghadapi musuh, bukan melarikan diri, melainkan Allah memasukkannya ke surga. [Al-Kamil fit Tarikh 2:23]
Mendengar seruan dan undangan suci ini, maka semangat pasukan muslimin semakin berkobar-kobar dan menyala-nyala, dan hati mereka semakin membaja. Dan diriwayatkan bahwa diantara yang ikut serta dalam barisan tentara muslimin dalam perang Badr ada seorang pemuda yang baru berumur 16 tahun, bernama ‘Umair bin Al-Humam Al-Anshariy. Ketika ia mendengar seruan Nabi SAW menggembirakan kaum muslimin supaya berjuang dan berperang terus, serta memberikan janji surga bagi siapa yang tahan sampai mati dalam pertempuran tersebut, maka pemuda tersebut yang waktu itu sedang memakan buah kurma, lalu membuang kurma itu dari tangannya sambil berkata :
بَخٍ، بَخٍ، مَا بَيْنِى وَ بَيْنَ اَنْ اَدْخُلَ اْلجَنَّةَ اِلاَّ اَنْ يَقْتُلَنِى هؤُلاَءِ. الكامل 2:23
“Bagus, bagus. Kalau begitu, tidak ada dinding yang membatasi aku dari masuk surga selain mereka membunuhku”.

Kemudian buah kurma itu dilemparkannya dan segera maju ke medan perang dengan  pedang terhunus. Kemudian Mihja’ bekas budak ‘Umar bin Khaththab terbunuh sebagai syahid karena terkena panah, dan itu merupakan orang pertama dari kaum muslimin yang terbunuh, kemudian Haritsah bin Suraqah Al-Anshariy juga terbunuh kena panah, kemudian ‘Auf bin ‘Afraa’ terus berperang sehingga terbunuh.
‘Umair bin Al-Humam terus bertempur dengan gagah berani dan terus-menerus mengejar lawan (tentara Quraisy) hingga ia menemui syahid sesuai dengan apa yang ia cari. Dan peperangan semakin dahsyat. Kemudian Rasulullah SAW mengambil segenggam pasir dan dilemparkan ke arah orang-orang Quraisy sambil bersabda, “Alangkah buruknya wajah-wajah itu”. Dan beliau bersabda kepada para shahabat, “Terus tingkatkan gempuran kepada mereka !”.
Begitulah semangat yang telah diberikan Nabi SAW kepada segenap pasukannya yang tengah menghadapi lawan yang lebih banyak jumlahnya dan lebih cukup perlengkapannya. Dengan demikian, semangat tentara muslimin waktu itu makin berkobar, masing-masing terus menggempur lawan dan terus menyerbu barisan musuh. Akhirnya tentara musyrikin Quraisy semakin terdesak lalu mengundurkan diri, karena mereka telah bercerai-berai dan banyak pula yang mati terbunuh dan tertawan oleh tentara muslimin.
Anjuran Nabi SAW tersebut adalah sesuai dengan bunyi Firman Allah yang termaktub dalam surat Al-Anfaal : 65, yang artinya, “Hai Nabi, kobarkanlah semangat orang yang beriman untuk berperang. Jika ada 20 orang yang shabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan 200 orang musuh. Dan jika ada 100 orang (yang shabar) diantara kamu, mereka dapat mengalahkan 1.000 dari orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. [QS. Al-Anfaal : 65]
Diriwayatkan, bahwa waktu itu Abu Jahl sebagai kepala pasukan musyrikin Quraisy berdoa kepada Tuhan, yang diantaranya demikian, “Ya Tuhan, siapakah orang yang lebih cinta kepada Engkau dan yang lebih ridla pada sisi Engkau, maka berilah pertolongan akan dia. Ya Tuhan, kamilah yang lebih membela kebenaran, maka berilah pertolongan kepada kami. Ya Tuhan, agama kami yang lama, dan agama Muhammad yang baru. Ya Tuhan, tolonglah oleh-Mu akan sebaik-baik diantara kedua agama itu !”.
Demikianlah doa Abu Jahl. Dia merasa lebih cinta dan lebih rela kepada Allah, dan ia merasa di dalam kebenaran, maka ia sangat berani mengajukan permohonan kepada Allah. Dia menganggap bahwa agamanya (agama menyembah berhala) itu yang benar, dan agama yang di bawa oleh Nabi SAW dipandangnya agama baru. Dia tidak mengerti, bahwa doanya itu laksana senjata makan tuan. Bahkan diriwayatkan pula, bahwa dikala akan terjadi pertempuran antara tentara muslimin dengan tentara musyrikin, Abu Jahl berdoa kepada Allah yang artinya, “Ya Allah, siapa dari antara kami (dua golongan) yang lebih memutuskan tali perhubungan darah, memecah persatuan bangsa dan yang telah mendatangkan barang yang tidak dikenal, maka binasakanlah ia besok pagi !”.
11. Kemenangan Tentara kaum Muslimin.
Sebab dari keteguhan dan ketabahan hati segenap tentara muslimin, sebab kebersihan tauhid mereka kepada Allah, maka Allah menolong kaum muslimin, dengan menurunkan bantuan seribu malaikat, kemudian ditambah lagi sehingga menjadi tiga ribu malaikat, kemudian ditambah lagi hingga menjadi lima ribu malaikat. Firman Allah SWT :
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مّنَ اْلمَلئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ. وَ مَا جَعَلَهُ اللهُ اِلاَّ بُشْرى وَ لِتَطْمَئِنَّ بِه قُلُوْبُكُمْ، وَ مَا النَّصْرُ اِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللهِ، اِنَّ اللهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ. الانفال:9-10
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berutut-turut. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai khabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Al-Anfaal : 9-10]
وَ لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ بِبَدْرٍ وَّ اَنْتُمْ اَذِلَّةٌ، فَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَ لَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلثَةِ الاَفٍ مّنَ اْلمَلئِكَةِ مُنْزَلِيْنَ. بَلى اِنْ تَصْبِرُوْا وَ تَتَّقُوْا وَ يَأْتُوْكُمْ مّنْ فَوْرِهِمْ هذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ الاَفٍ مّنَ اْلمَلئِكَةِ مُسَوّمِيْنَ. وَ مَا جَعَلَهُ اللهُ اِلاَّ بُشْرى لَكُمْ وَ لِتَطْمَئِنَّ قُلُوْبُكُمْ بِه، وَ مَا النَّصْرُ اِلاَّ مِنْ عِنْدِ اللهِ اْلعَزِيْزِ اْلحَكِيْمِ. لِيَقْطَعَ طَرَفًا مّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَآئِبِيْنَ. ال عمران:123-127
Dan sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badr, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (123) (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin, “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit) ?”. (124) Ya (cukup), jika kamu bershabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (125) Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (126) (Allah menolong kamu dalam perang Badr dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa. (127)
Dan akhirnya tentara muslimin yang jumlahnya hanya sepertiga tentara musyrikin, dan walaupun alat-alat perlengkapan kaum muslimin serba kurang jika dibanding dengan perlengkapan tentara musyrikin, akan tetapi pertolongan Allah tetap dikaruniakan kepada tentara muslimin sehingga mendapat kemenangan yang gilang-gemilang.
Abu Jahl sebagai Panglima perang tentara musyrikin Quraisy yang begitu sombong dan ganas dapat dibunuh oleh Mu’adz (Mu’awwadz) bin ‘Afraa’ dan lehernya dipancung oleh Abdullah bin Mas’ud. Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy yang begitu congkak dan kejam, dan terkenal biasa berperang, dapat dibunuh Bilal bekas budak beliannya yang pernah dianiaya dan disiksanya ketika di Makkah hingga hampir mati karena mengikut Islam. Demikian pula diantara ketua-ketua dan kepala-kepala musyrikin Quraisy yang lain, ketika itu mati terbunuh dalam keadaan hina-dina.
Pada perang Badr tersebut tentara musyrikin Quraisy yang mati terbunuh ada 70 orang, dan yang tertawan 70 orang juga. Adapun tentara muslimin yang syahid hanya 14 orang, terdiri dari 6 orang dari kaum Muhajirin dan 8 orang dari Anshar.
Shahabat yang syahid dari Muhajirin adalah : 1. ‘Ubaidah bin Al-Harits, 2. ‘Umair bin Abu Waqqash (saudaranya Sa’ad bin Abu Waqqash), 3. ‘Umair Dzusy Syamalain bin ‘Abdu ‘Amr, 4. ‘Aqil bin Bukair, 5. Shafwan bin Baidlaa’ dan 6. Mihja’ budak ‘Umar bin Khaththab. Dan yang dari Anshar : 1. ‘Auf bin Al-Harits, 2. Mu’awwadz bin ‘Afraa’ saudara ‘Auf, 3. Haritsah bin Suraqah, 4. Raafi’ bin Al-Mu’alla, 5. ‘Umair bin Al-Humam, 6. Yazid bin Harits (mereka itu dari golongan Khazraj), 7. Sa’ad bin Khaitsamah dan 8. Mubasysyir bin ‘Abdul Mundzir (dari golongan ‘Aus).
Diriwayatkan, bahwa ketika Abu Jahl dapat dibunuh oleh Mu’adz bin ‘Afraa dan kepalanya dipancung oleh ‘Abdullah bin Mas’ud, maka kepalanya lalu dibawa oleh ‘Abdullah bin Mas’ud dan ditunjukkan di hadapan Nabi SAW. Ketika itu Abdullah berkata, “Ya Rasulullah, inilah kepala Abu Jahl musuh Allah”. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada ‘Abdullah :
اَللهُ، لاَ اِلهَ غَيْرُهُ. اَللهُ، لاَ اِلهَ غَيْرُهُ. اَللهُ، لاَ اِلهَ غَيْرُهُ. قَتَلْتَ اَبَا جَهْلٍ؟
Allah, tidak ada Tuhan selain-Nya. Allah, tidak ada Tuhan selain-Nya. Allah tidak ada Tuhan selain-Nya, kamu membunuh Abu Jahl ?.
‘Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Ya”, ia sambil meletakkan kepala Abu Jahl di hadapan Nabi SAW, dan beliau seketika itu bersujud kepada Allah, menunjukkan syukur kepada-Nya lalu mengucap :
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ هَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ.
Segala puji bagi Allah yang benar janji-Nya dan yang telah menolong hamba-Nya dan yang telah mengalahkan tentara musuh dengan sendiri-Nya.
12. Bangkai-bangkai Tentara Musyrikin Dikuburkan ke Dalam Sumur Badr.
Menurut riwayat, bahwa setelah selesai peperangan, maka ketika itu Nabi SAW memerintahkan kepada sebagian tentara muslimin supaya melemparkan dan menguburkan bangkai-bangkai tentara musyrikin yang terbunuh di Badr, ke dalam sebuah tanah galian (sumur). Kemudian setelah bangkai-bangkai itu dilemparkan dan dikuburkan semuanya, beliau berdiri di atas tempat mereka itu sambil bersabda :
يَا اَهْلَ الْقَلِيْبِ . هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمْ رَبُّكُمْ حَقًّا؟ فَاِنِّيْ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِيْ رَبِّيْ حَقًّا.
Hai orang-orang yang di dalam sumur ! Apakah kamu telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanmu itu benar ? Karena sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku itu benar.
Ketika itu, diantara kaum muslimin ada yang bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, mengapa engkau berkata-kata kepada orang-orang yang telah menjadi bangkai ?”
Nabi SAW bersabda :
لَقَدْ عَلِمُوْا اَنَّ مَا وَعَدَهُمْ رَبُّهُمْ حَقٌّا.
Sesungguhnya mereka itu telah mengetahui, bahwa apa-apa yang dijanjikan oleh Tuhan mereka itu benar.
Dan diriwayatkan pula, bahwa pada malam harinya di tengah malam (sebelum Nabi SAW kembali ke Madinah), dipanggillah nama-nama para kepala Quraisy yang telah dilemparkan ke dalam sumur itu oleh Nabi SAW satu demi satu. Sabda beliau, “Wahai ‘Utbah bin Rabi’ah, Wahai Syaibah bin Rabi’ah, Wahai Abu Jahal bin Hisyam, Wahai Umayyah bin Khalaf, Wahai Fulan bin Fulan”, dan demikianlah seterusnya, dan beliau lalu bersabda :
هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمْ رَبُّكُمْ حَقًّا؟ فَاِنِّيْ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِيْ رَبِّيْ حَقًّا.
Apakah kamu mendapatkan apa-apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanmu itu benar ? Karena sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku itu benar.
Ketika itu ada diantara kaum muslimin yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa  engkau  memanggil-manggil orang-orang yang telah menjadi bangkai?”.
Nabi SAW bersabda :
مَا اَنْتُمْ بِاَسْمَعَ لِمَا اَقُوْلُ مِنْهُمْ. وَلكِنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ اَنْ يُجِيْبُوْنِ.
Tidaklah kamu lebih mendengar pada apa yang aku katakan daripada mereka, hanya mereka itu tidak dapat menjawab kepadaku.
Kemudian beliau bersabda :
يَا اَهْلَ الْقَلِيْبِ . بِئْسَ عَشِيْرَةُ النَّبِيِّ كُنْتُمْ لِنَبِيِّكُمْ! كَذَّبْتُمُوْنِى وَصَدَّقَنِى النَّاسُ. وَ اَخْرَجْتُمُوْنِى وَ آوَانِى النَّاسُ، وَقَاتَلْتُمُوْنِى وَ نَصَرَنِى النَّاسُ. النبلاء 1:312
Hai bangkai-bangkai yang ada di dalam sumur ! Sejahat-jahat orang yang berkawan dan berkumpul dengan Nabi, adalah kamu sekalian terhadap Nabimu. Kamu mendustakan kepadaku, padahal orang banyak membenarkan kepadaku. Kamu mengusirku padahal orang banyak memberi tempat kepadaku. Kamu memerangi aku, padahal orang banyak menolong dan membela kepadaku.
Selanjutnya beliau bersabda :
هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمْ رَبُّكُمْ حَقًّا ؟ فَاِنِّيْ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِى رَبِّى حَقًّا.
Apakah kamu telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanmu itu benar ? Karena sesungguhnya aku telah mendapatkan apa yang telah dijanjikan oleh Tuhanku itu benar.
Nabi SAW berulang kali bersabda kepada mereka yang telah dilemparkan ke dalam sumur tersebut memang sengaja, karena mereka selalu berlaku sombong, congkak, kejam dan ganas terhadap beliau dan kaum pengikutnya.
Dan diriwayatkan, ketika bangkai-bangkai tokoh-tokoh Quraisy dilemparkan ke dalam sumur, yang diantara bangkai-bangkai itu ialah bangkai ‘Utbah bin Rabi’ah yaitu ayah shahabat Abu Hudzaifah, maka ketika itu Nabi SAW melihat wajah Abu Hudzaifah tampak sangat susah. Oleh sebab itu beliau bertanya kepadanya :
يَا اَبَا حُذَيْفَةَ , لَعَلَّكَ قَدْ دَخَلَكَ مِنْ شَأْنِ اَبِيْكَ شَيْئٌ ؟
Hai Abu Hudzaifah, barangkali ada sesuatu yang masuk ke dalam hatimu mengenai urusan orang tuamu ?.
Abu Hudzaifah menjawab, “Tidak, demi Allah ya Rasulullah, saya tidak ada keragu-raguan tentang orang tua saya, dan tidak pula mengenai tempat kematiannya, tetapi saya mengetahui bahwa orang tua saya itu mempunyai pikiran, mempunyai kelebihan, mempunyai perasaan penyantun, dan sifat-sifat yang demikian itu kiranya akan membawanya kepada Islam. Akan tetapi setelah saya mengetahui apa yang telah engkau sebutkan tentang kekufurannya, yang pada mulanya saya harapkan keislamannya itu, maka keadaan yang demikian itu menjadikan hati saya berduka cita”.

Setelah mendangar jawaban shahabat Abu Hudzaifah yang demikian itu Nabi SAW lalu mendoakan kebaikan kepadanya, “Semoga untuk selanjutnya baiklah baginya”.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Nabi SAW Mengobarkan Semangat Berperang."

Posting Komentar