PERINGATAN UNTUK ORANG YANG BERTAQWA


PERINGATAN UNTUK ORANG YANG BERTAQWA
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيّئَاتِ اَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ الله فَهُوَ اْلمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مَنْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَمَّا بَعْدُ:
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan banyak kenikmatan kepada kita, sehingga bangsa Indonesia telah dapat menyelesaikan pesta demokrasi (Pemilihan Umum) dengan aman, tertib dan lancar serta telah dapat memilih wakil-wakil rakyat yang diharapkan dapat melanjutkan pembangunan manusia seutuhnya untuk mensejahterakan bangsa lahiriyah maupun bathiniyah.
Rasa syukur kita kepada Allah tidak cukup hanya dengan ucapan "hamdalah" maupun sujud syukur, akan tetapi lebih dari itu semua, kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dalam arti yang sebenar-benarnya, yakni kita laksanakan perintah Allah dan kita jauhi larangan-larangan-Nya tanpa pilih-pilih.
Dengan taqwa tersebut insya Allah kita dapat memperoleh berbagai keberhasilan dalam hidup kita, terutama mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, bukan kebahagiaan yang semu, yakni kebahagiaan yang kekal di akhirat kelak, karena taqwa memang merupakan  kunci bagi keberhasilan semacam itu, sebagaimana firman Allah dalam surat Ali 'Imron 133 :
وَسَارِعُوْا اِلى مَغْفِرَةٍ مّنْ رَّبّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّموتُ وَاْلاَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. [Ali Imran : 133]
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia, taqwa, disamping bisa  membuahkan  kebahagiaan di akhirat, juga bisa membuahkan keberhasilan di dunia ini, yaitu dimudahkanNya semua urusan kita, diberi jalan keluar dari kesulitan, dan diberi rizki yang tidak disangka-sangka, sebagaimana firman-Nya :
وَمَنْ يَّتَّقِ الله يَجْعَلْ لَّه مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَيَحْتَسِبُ.الطلاق:2-3
Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya.[Ath-Thalaaq : 2-3]
وَمَنْ يَّتَّقِ الله يَجْعَلْ لَّه مِنْ اَمْرِه يُسْرًا.الطلاق:4
Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia mengadakan baginya kemudahan dalam urusannya. [Ath-Thalaaq : 4]

Disamping itu buah ketaqwaan kepada Allah tidak hanya dapat dinikmati oleh orang per orang saja,  tetapi  juga dapat diperoleh dan dinikmati oleh masyarakat secara bersama-sama, baik masyarakat sebuah  desa, sebuah kota, maupun sebuah negara. Kebalikannya, keingkaran kepada Allah bisa juga menimpa masyarakat secara bersama-sama, bukan hanya orang per orang pelaku keingkaran tersebut. Firman Allah :
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرى امَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكتٍ مّنَ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ وَلكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. الاعراف:96
Jikalau sekiranya penduduk kota-kota beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A'raaf : 96].
Ayat tersebut mengandung dua pengertian, yaitu:
1.  Janji Allah kepada orang yang bertaqwa, yakni akan dilimpahi berkah dari langit dan dari bumi.
2.  Ancaman siksa terhadap orang-orang yang mendustakan (mengingkari) ayat-ayat Allah.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia, karunia Allah  kepada suatu bangsa karena ketaqwaan bangsa tersebut pernah dilimpahkan Allah ke berbagai bangsa, antara lain ke Bangsa Mesir pada jaman Nabi Yusuf, kepada Bani Israil pada jaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, dan kepada Bangsa Arab sendiri setelah mereka semua menerima seruan Nabi Muhammad SAW.
Sedang  siksa Allah kepada suatu bangsa yang disebabkan keingkaran bangsa tersebut antara lain pernah ditimpakan Allah kepada Bangsa Mesir ketika Bangsa Mesir berada di bawah pimpinan Fir'aun. Allah mengirim berbagai   bencana, antara lain berupa  kemarau yang panjang,  kekurangan buah-buahan dan hasil panen (musim paceklik),  angin taufan yang dahsyat, hama belalang, kutu dan katak, serta air yang berubah menjadi darah.
وَلَقَدْ اَخَذْنَا الَ فِرْعَوْنَ بِالسّنِيْنَ وَنَقْصٍ مّنَ الثَّمَرتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ. الاعراف:130
Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun) dan kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran. [Al-A'raaf : 130]
فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ ايتٍ مُّفَصَّلتٍ، فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ. الاعراف:133
Lalu Kami kirim kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. [Al-A'raaf : 133]
Tetapi Fir'aun tidak juga mau sadar dari kesombongannya dan keingkarannya kepada Allah, maka Allah memberinya hukuman yang terakhir, ia bersama bala tentaranya yang mengejar Musa dan Bani Israil ditenggelamkan di laut.
فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَغْرَقْنهُمْ فِى الْيَمّ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِايتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غفِلِيْنَ.
Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu. [Al-A'raaf : 136]
Allah sebetulnya   memberikan peringatan kepada orang-orang/kaum yang berbuat kedlaliman secara bertahap sebagaimana peringatan yang diberikan kepada Fir'aun tersebut, agar mereka berfikir dan mau surut dari kesombongan dan kedlalimannya. Akan tetapi apabila dengan peringatan demi peringatan itu mereka tidak mau sadar juga, maka  Allah justru makin membuka pintu-pintu kesenangan yang banyak sehingga mereka semakin bangga dengan kesombongan dan kemaksiyatannya, makin leluasa menuruti kehendak hawa nafsunya dan makin tidak percaya kepada peringatan-peringatan yang baik.
Tatkala orang-orang yang dlalim dan sombong tersebut sedang asyik bergembira dengan segala fasilitas dan kemewahan yang ada, dengan sekonyong-konyong Allah mendatangkan siksa secara mendadak, akhirnya hancur dan tidak akan tertolong lagi.
Perhatikan firman Allah dalam surat Al-An'aam : 44 :
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكّرُوْا بِه فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ  اَبْوَابَ كُلّ شَيْءٍ حَتّى اِذَا فَرِحُوْا بِمَا اُوْتُوْا اَخَذْنهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ. الانعام:44
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. [Al-An'aam : 44]
Dan di akherat kelak, ketika  mereka tak mungkin kembali ke dunia, mereka  akan menyesali perbuatannya, tetapi penyesalan mereka itu tidak ada gunanya lagi.
..... فَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رَبَّنَا اَخّرْنَا اِلى اَجَلٍ قَرِيْبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ  الرُّسُلَ، اَوَلَمْ تَكُوْنُوْا اَقْسَمْتُمْ مّنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مّنْ زَوَالٍ. ابرهيم:44
Maka berkatalah orang-orang yang dlalim : "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti Rasul-rasul". (Kepada mereka dikatakan) : "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa ?". [Ibrahim : 44]
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia,  kitapun sebagai bangsa sudah dua kali diberi  karunia yang tak terhingga oleh Allah, yang pertama dibebaskan-Nya  kita dari penjajahan  yang mencengkeram selama kurang-lebih 350 tahun,  dan yang kedua, 32 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 1 Oktober 1965, Allah telah memberikan kenikmatan yang besar kepada bangsa Indonesia pada umumnya dan ummat Islam pada khususnya, yakni kita dapat menumpas Gerakan 30 September (G 30 S/PKI) yang telah mengkoyak-koyak kesatuan dan persatuan bangsa, dengan menghalalkan segala cara untuk merusak ideologi negara dan berusaha merubah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang atheis.
Untuk itu kita wajib bersyukur dengan meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa, serta meningkatkan kewaspadaan agar tragedi Nasional yang telah menimpa bangsa dan negara kita yaitu pengkhianatan PKI yang terkenal dengan Gerakan 30 September (G 30 S/PKI) itu tidak terulang kembali.
Berbagai peristiwa dan bencana yang menimpa kita akhir-akhir ini tampaknya perlu kita cermati dan kita renungkan, jangan-jangan kita kurang atau bahkan sama sekali tidak bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya tersebut, jangan-jangan itu semua merupakan peringatan Allah kepada kita.
Akhir-akhir ini terjadi berbagai perselisihan yang tidak bisa dilihat sekedar sebagai perbedaan pendapat, apalagi perbedaan pendapat yang merupakan rahmat, melainkan sudah merupakan luapan kedengkian dan kebencian yang mengarah ke perpecahan. Hal itu tampak dari saling tuduh, saling menyalahkan, saling melecehkan yang terlontar dan dimuat oleh berbagai koran. Dan perpecahan bukanlah rahmat melainkan adzab, sebagaimana hadits  Nabi berikut ini.
اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ.
"Persatuan itu rahmat dan perpecahan itu adzab".
Disamping itu kerusakan moral melanda semua lapisan masyarakat, yaitu berupa perjudian, mabuk-mabukan, ngepil, perampokan, perkosaan, pembunuhan yang tak mengenal perikemanusiaan, dan lain sebagainya.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia, oleh karena itu berbagai bencana yang terjadi akhir-akhir ini yang berupa kebakaran hutan, pesawat terbang jatuh, kekeringan di mana-mana akibat kemarau yang panjang, tabrakan lalu lintas yang banyak makan korban dsb, barangkali itu semua merupakan peringatan dari Allah SWT yang perlu kita renungkan. Nabi SAW pernah bersabda.
اِنَّ مِنْ اَشْرَاطِ السَّاعَةِ اَنْ يُرْفَعَ اْلعِلْمُ وَيُثْبِتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيُظْهَرَ الزّنَا.
Sesungguhnya di antara tanda-tanda datangnya qiyamat/binasanya suatu ummat (bangsa) ialah diangkatnya (didangkalkannya) pengetahuan (agama), dikuatkan (didukungnya) sifat jahil/bodoh tentang agama, diminumnya minuman keras secara terang-terangan dan dilakukan kemaksiatan perzinaan secara meluas. [HR.  Bukhari]
Dalam riwayat  yang lain Rasulullah SAW bersabda :
اَنَّهُ سَيُصِيْبُ اُمَّتِى دَاءُ اْلاُمَمِ. وَقَالُوْا  : وَمَا دَاءُ اْلاُمَمِ ؟ قَالَ: اَْلاَشَرُ وَالْبَطَرُ وَالتَّكَاثُرُ وَالتَّنَافُسُ فِى الدُّنْيَا وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ حَتَّى يَكُوْنَ اْلبَغْيُ ثُمَّ يَكُوْنَ الْـهَرَجُ. ابن ابى الدنيا عن ابى هريرة.
Sesungguhnya ummatku akan ditimpa oleh penyakit ummat. Para shahabat bertanya : Apakah penyakit ummat tersebut ya Rasulullah ? Nabi SAW bersabda : 1) kufur nikmat, 2) sombong (takabur), 3) serakah, 4) bersaing (tidak sehat) tentang urusan dunia, 5) berbenci-bencian, 6) berdengki-dengkian sehingga meningkat melampaui batas (berlaku kejam) dan kemudian berbunuh-bunuhan.
Memperhatikan kejadian demi kejadian yang menimpa kita  dan memperhatikan sabda Rasul tersebut,  kita perlu khawatir dan perlu mawas diri serta berfikir dengan serius demi keselamatan kita bersama dan agar adzab/siksa yang pernah menimpa  orang-orang dahulu tidak menimpa kita sekarang ini. 
Untuk itu marilah kita perhatikan hadits Nabi SAW berikut ini.
اَلدُّنْيَا بُسْتَانٌ زُيّنَتْ بِخَمْسَةِ اَشْيَاءَ: عِلْمُ الْعُلَمَاءِ وَعَدْلُ اْلاُمَرَاءِ وَعِبَادَةُ الْعُبَّادِ وَاَمَانَةُ التُّجَّارِ وَنَصِيْحَةُ الْمُحْتَرِفِيْنَ. فَجَاءَ اِبْلِيْسُ بِخَمْسَةِ اَعْلاَمٍ فَاَقَامَهَا بِجَنْبِ هذِهِ الْخَمْسِ. جَاءَ  بِالْحَسَدِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِلْمِ وَجَاءَ بِالْجَوْرِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعَدْلِ وَجَاءَ بِالرّيَاءِ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ الْعِبَادَةِ وَجَاءَ بِالْخِيَانَةِ فَرَكَزَهَا بِجَنْبِ اْلاَمَانَةِ وَجَاءَ بِالْغَشّ فَرَكَزَهُ بِجَنْبِ النَّصِيْحَةِ
Dunia ini laksana taman  yang dihiasi  lima macam perhiasan, yakni  1) ilmunya para ulama, 2) keadilan para penguasa, 3) 'ibadahnya ahli ibadah, 4) kejujuran para pengusaha (pedagang) 5) kedisiplinan para pegawai (karyawan). Lalu  datanglah Iblis membawa  lima bendera dipancangkan di samping lima hiasan itu; 1) kedengkian dipancangkan disamping ilmu, 2) kedlaliman dipancangkan disamping keadilan, 3) riya' dipancangkan disamping ibadah, 4) khianat dipancangkan disamping kejujuran, dan 5) kecurangan dipancangkan disamping kedisiplinan.
Ilmunya para ulama merupakan hiasan dunia karena dengan ilmunya para ulama, para cerdik-pandai, dunia ini mendapat cahaya, manusia tahu mana yang benar mana yang salah, tahu mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Keadilan para penguasa juga merupakan hiasan dunia, karena dengan keadilan para penguasa ketertiban dan keamanan dunia bisa terjaga.  Sedangkan ibadahnya ahli ibadah juga merupakan hiasan dunia karena dengan ibadahnya para ahli ibadah akan tercipta kedamaian dan ketentraman. Adapun kejujuran para pengusaha jelas juga merupakan hiasan dunia karena dengan jujurnya para pengusaha, perekonomian negara menjadi stabil sehingga masyarakat akan mendapatkan kemaslahatan yang banyak. Begitu pula halnya dengan kedisiplinan pegawai (karyawan),  masyarakat akan terlayani keperluannya dan  terpenuhi hak-haknya, segala sesuatu berjalan dengan tertib dan lancar.
Tetapi lima hiasan yang menjadikan dunia laksana taman itu bisa rusak ketika timbul  kedengkian diantara para ulama, kedlaliman para penguasa, ke-riya'-an ahli ibadah, pengkhianatan para pedagang, dan kecurangan para pegawai (karyawan).
Kedengkian satu terhadap yang lain memang merupakan penyakit yang bisa menghinggapi para ulama. Dan apabila ini terjadi,  maka perpecahan pun  tak bisa dihindari. Perbedaan pendapat saja belum akan menimbulkan perpecahan, tetapi apabila kedengkian telah muncul, jangankan ada perbedaan pendapat, tak ada perbedaan pendapat pun akan timbul perpecahan. Adanya kedengkian diantara para ulama itu bisa dilihat dari ucapan-ucapan mereka yang saling menyalahkan, saling menghina, saling melecehkan, dan akhirnya berusaha saling menjatuhkan.
Sedangkan penyakit yang bisa menghinggapi para penguasa adalah munculnya tindakan sewenang-wenang para penguasa terhadap rakyat. Kekuasaan yang ada pada mereka tidak dipakai untuk menegakkan keadilan dan menjaga ketertiban, melainkan untuk menindas rakyat demi kepentingan pribadinya. Apabila ini terjadi, pada suatu saat rakyat tentu akan meronta. Sering orang tahan hidup dalam serba kekurangan, tetapi ketika diperlakukan dengan dlalim ia akan berontak. Keadilan lebih menjamin stabilitas dibanding kemakmuran materiil.
Riya' adalah penyakit yang bisa menimpa ahli ibadah. Dalam beribadah bukan Allah yang diharap pahala-Nya, melainkan pujian orang sebagai ahli dzikir, khusuk, zuhud, dan lain sebagainya, sehingga efek dari ibadah, dari ingat kepada Allah, yakni tentramnya hati dan damainya jiwa, tidak tercapai. Meskipun tiap saat suka pergi ke masjid, ke mana-mana membawa sajadah dan tasbih, tetapi hatinya kering.  Orang semacam ini gampang sekali termakan isu-isu negatif sehingga gampang pula dikipasi untuk melakukan tindakan-tindakan anarkhis.
Adapun penyakit yang bisa menghinggapi para pengusaha adalah ketidakjujuran. Tindakan ini pada jangka panjang merugikan semua pihak, termasuk pedagang sendiri, karena tindakan ini kontra-produktif. Sembilan ons dikatakan satu kilo, sembilan puluh senti dikatakan satu meter. Dalam iklan satu obat dikatakan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit padahal kenyataannya tidak, sehingga uang yang dibelanjakan oleh konsumen turun nilainya karena  mendapat barang yang lebih rendah dari nilai uang itu. Apabila pengkhianatan semacam ini telah meraja lela, perekonomian negara akan kacau balau.
Yang terakhir, penyakitnya para karyawan adalah curang dan tidak disiplin. Ketentuan jam kerja tidak ditepati atau dihabiskan untuk membaca koran, bermain catur, dan lain sebagainya. Maka, sama dengan ketidakjujuran pengusaha, ketidakdisiplinan karyawan juga bersifat kontra-produktif, karena banyak pekerjaan yang terbengkelai atau tertunda.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia, apabila lima bendera yang dibawa Iblis itu betul-betul terpancang dan berkibar, dunia yang laksana taman tadi akan beubah menjadi hutan belukar. Binatang-binatang buas yang menjadi penghuninya. Yang kuat memakan yang lemah, yang lemah beramai-ramai mengeroyok yang kuat, yang sama-sama kuat bertarung tak ada henti-hentinya menyeret isi seluruh hutan sehingga hutan itu kacau-balau, hancur lebur, tak karuan jadinya.
Tetapi kita tidak perlu saling tuduh dan saling menyalahkan, melainkan mari hadits Nabi tersebut kita pakai sebagai cermin untuk melihat diri kita sendiri sesuai dengan status kita masing-masing. Apakah kita sebagai ulama, penguasa, ahli ibadah pengusaha (pedagang), pegawai (karyawan), jangan kita beri kesempatan iblis menancapkan benderanya di hati kita masing-masing, karena itu semua akan berakibat kehancuran danberantakan di semua lapisan.
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia
Alhamdulillah pemerintah Orde Baru mempunyai program yang apabila dilaksanakan dengan baik sudah akan dapat menjadikan negeri kita ini laksana sebuah kebun yang lengkap dengan perhiasannya itu. Untuk itu marilah kita semua meningkatkan taqwa kita kepada Allah dan memohon kepada Allah agar program-program tersebut bisa terlaksana dengan baik dan agar Allah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya  kepada kita semua.
Mudah-mudahan berbagai bencana yang terjadi akhir-akhir ini menyadarkan kita, sehingga tidak berkelanjutan menjadi bencana yang membinasakan kita sebagai bangsa.
Marilah kita memohon kepada Allah :
Allaahumma ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa orang tua kami dan para pemimpin kami, baik yang dhohir maupun yang bathin, yang kami sengaja atau tidak, karena Engkau-lah Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Allaahumma ya Allah, berilah kami kekuatan untuk mengikuti akhlaq Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan ummat, yang mampu membawa kepada kehormatan diri dari bangsa kami.
Allaahumma ya Allah, berilah hidayah, inayah dan ma'unah kepada para pemimpin kami dalam melaksanakan tugas mulia memimpin bangsa Indonesia ke jalan yang Engkau ridlai. Jauhkanlah dari segala rintangan yang akan menghambat pembangunan bagsa ini dan terimalah amal shalih pemimpin-pemimpin kami.
Allaahumma ya Allah, berilah tambahan ilmu kepada ulama-ulama dan para cerdik pandai serta seluruh rakyat Indonesia yang senantiasa mengharap pertolongan-Mu, dan berilah pula kemampuan untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk-Mu, ya Allah.
Ya Allah, ya Tuhan kami, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang haq itu tampak haq, dan berilah kami kekuatan untuk dapat mengikutinya, dan tunjukkanlah bahwa yang bathil itu tampak bathil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.
Ya Allah, janganlah Engkau kencongkan hati kami setelah hidayah menyinari kami. Dan limpahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Dzat Yang Maha Pemberi Rahmat.
Allaahumma ya Allah, kabulkanlah segala permohonan dan doa kami.
رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "PERINGATAN UNTUK ORANG YANG BERTAQWA"

Posting Komentar