RINTANGAN DAKWAH ZAMAN NABI SAW.

RINTANGAN  DAKWAH  ZAMAN NABI SAW.
Kaum Musyrikin Mengadakan Musyawarah 
 untuk Merintangi Dakwah Nabi SAW.

Setelah bermacam-macam rintangan, gangguan, siksaan, hinaan, cacian, ejekan dan berbagai tipu daya untuk merintangi Nabi SAW dan seruannya serta kepada para pengikutnya tidak dapat menghasilkan apa yang dimaksudkan, maka mereka (kaum musyrikin Quraisy) lalu mengadakan pertemuan untuk menunjuk seorang utusan diantara penganjur dan pemuka-pemuka bangsa Quraisy, untuk datang menghadap Nabi SAW dengan maksud akan memperdayakan beliau supaya beliau mau menghentikan seruannya yang berkobar-kobar itu. Hal itu dimusyawarahkan dengan matang, siapa orang yang hendak ditunjuk untuk menjadi utusan mereka itu. Karena mereka tahu bahwa Nabi Muhammad SAW itu bukanlah seorang yang mudah diperdayakan.

Rapat itu dilangsungkan di gedung Darun Nadwah dan dikunjungi oleh para penganjur dan pemuka bangsa Quraisy (musyrikin) yang kenamaan, seperti Walid bin Mughirah, 'Utbah bin Rabi'ah, Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, Aswad bin Muththalib, Syaibah bin Rabi'ah, Zam'ah bin Aswad, Nadhar bin Harits, Nubaih dan Munabbah bin Hajjaj, 'Abdullah bin Abu Umayyah dll.
Dalam rapat (pertemuan) itu, setelah dirundingkan dengan panjang lebar, maka ditetapkan bahwa mereka akan menunjuk seorang utusan agar datang menghadap kepada Nabi SAW untuk memperdayakan beliau.
Dan utusan itu haruslah seorang bangsawan Quraisy, yang seimbang tingkat kebangsawanannya dengan Nabi Muhmmad SAW, yang gagah berani, yang berbadan tegap, yang masih agak muda, yang bermuka tampan, yang dapat bermain lidah, dan pandai berbicara dengan lemah lembut, sehingga perkataannya dapat menarik pada orang yang mendengarnya dan dapat memperdayakannya.
Kemudian setelah mereka memperbincangkan, mempertimbangkan dan memperdebatkan sepuas-puasnya, maka dengan suara bulat mereka memutuskan bahwa orang yang dikehendaki sebagai utusan itu adalah 'Utbah bin Rabi'ah. Karena dialah yang tepat dan sesuai jika berhadapan muka dengan Nabi SAW dan untuk berunding dengan beliau.
Keputusan itu diterima dengan gembira yang disertai dengan kesombongan oleh 'Utbah bin Rabi'ah. Karena dia merasa bahwa diantara mereka hanya dialah yang mempunyai sifat-sifat yang sesuai dengan kehendak mereka.
2. Pertemuan 'Utbah bin Rabi'ah dengan Nabi SAW yang Pertama
Setelah 'Utbah bin Rabi'ah terpilih sebagai utusan kaum Musyrikin Quraisy, maka pada suatu hari ia datang ke rumah Abu Thalib. Setelah ia bertemu dengan Abu Thalib (paman Nabi SAW), lalu meminta kepadanya supaya memanggil Nabi SAW ke rumahnya. Abu Thalib lalu mengabulkan permintaan itu, dan dengan segera Abu Thalib menyuruh seseorang untuk memanggil keponakannya. Setelah menerima panggilan itu, maka Nabi SAW segera datang kerumah pamannya.
Nabi SAW sama sekali tidak menyangka bahwa beliau sedang ditunggu-tunggu oleh 'Utbah di rumah pamannya. Oleh sebab itu, setibanya di rumah Abu Thalib beliau sedikit tercengang melihat 'Utbah ada di situ. Kemudian Nabi SAW duduk berhadapan dengan 'Utbah.
Setelah Nabi SAW dengan 'Utbah saling berpandangan, lalu 'Utbah berkata lebih dahulu :
"Hai anak laki-laki saudaraku ! Engkau sesungguhnya dari golongan kami, dan engkau telah mengetahui keadaan kita, bahwa kita bangsa Quraisy ini adalah sebaik-baik dan semulia-mulia bangsa Arab di dalam pergaulan dan bermasyarakat, sekarang engkau datang kepada bangsamu dengan membawa suatu perkara yang besar ! Engkau datang kepada bangsamu dengan membawa suatu perubahan yang amat berbahaya ! Tidakkah engkau merasa bahwa kedatanganmu itu telah memecah belah bangsamu yang telah berabad-abad bersatu, dan mencerai beraikan persaudaraan bangsamu yang telah lama sejalan, dan engkau telah membodoh-bodohkan orang-orang pandaimu, mencaci-maki apa-apa yang telah lama dipuja-puja para orang tuamu, engkau rendahkan apa-apa yang telah lama dimuliakan oleh nenek moyangmu dan bangsamu, engkau cela agama yang telah beratus tahun dipeluk oleh bangsamu dan para leluhurmu, dan engkau sesat-sesatkan pujangga-pujanggamu yang telah lewat. Kini bangsamu telah berpecah-belah dan bergolong-golong, disebabkan oleh perbuatanmu.
Kejadian yang demikian itu, kini telah tersiar di negara-negara lain. Maka dari itu kami sangat khawatir, apabila nanti bangsamu kedatangan musuh dari luar, dapatkah kita melawan dan mempertahankan kedudukan kita ? Sudah tentu tidak dapat. Sebab perpecahan di antara bangsamu itu kini semakin menjadi, yang tentu akan menyebabkan kelemahan pada bangsamu sendiri.
Oleh sebab itu, kedatanganku hari ini kepadamu, adalah atas nama bangsamu seluruhnya, dan hendak mengajukan kepadamu beberapa hal yang besar lagi sangat penting. Tetapi aku meminta kepadamu, bahwa sesudah aku mengatakannya, hendaklah engkau fikir dengan tenang dan engkau perhatikan benar-benar, jangan engkau tolak mentah-mentah belaka ! Agar supaya engkau nanti dapat menerima salah satu dari hal-hal yang akan kukatakan. Adapun tujuan kami tidak lain dan tidak bukan, supaya bangsamu yang mulia itu dapat bersatu kembali, seia sekata dan kembali berdamai seperti yang sudah-sudah".
Kemudian Nabi SAW. menjawab : "Katakanlah kepadaku segala sesuatu yang hendak engkau katakan, hai Abul Walid ! Aku akan mendengarkannya".
'Utbah bin Rabi'ah lalu berkata : "Saya akan bertanya lebih dahulu kepadamu Muhammad, sebelum saya mengatakan hal-hal yang akan saya katakan itu. Adakah engkau lebih baik daripada datukmu yang terhormat ('Abdul Muththalib) ?".
Nabi SAW waktu itu diam, tidak menjawab sepatah kata pun, 'Utbah lalu melanjutkan pembicaraannya : "Wahai anak laki-laki saudaraku ! Jika engkau menganggap bahwa dirimu lebih baik daripada orang-orang tuamu dan nenek moyangmu dahulu, maka katakanlah hal itu kepadaku, aku akan mendengarkannya. Dan jika engkau menganggap bahwa orang-orang tuamu dan nenek moyangmu itu lebih baik daripada engkau, padahal mereka itu dengan sungguh-sungguh menyembah dan memuliakan Tuhan-Tuhan yang engkau caci maki serta engkau hinakan sekarang ini, maka katakanlah hal itu kepadaku sekarang juga".
Nabi SAW tetap diam saja.
Lantas 'Utbah melanjutkan lagi pembicaraannya : "Sekarang bagai-mana Muhammad, apa yang menjadi kehendakmu dengan mengadakan agama baru itu ? Saya ingin tahu, Muhammad ! Jikalau dengan mengadakan agama baru itu engkau menginginkan harta benda, kami sanggup mengumpulkan harta benda buat engkau, sehingga engkau menjadi seorang yang paling kaya diantara kami. Jikalau engkau menghendaki kemuliaan atau ketinggian derajat, maka kami sanggup menetapkan engkau menjadi seorang yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya diantara kami, dan kamilah yang akan memuliakanmu. Jikalau engkau ingin menjadi raja, maka kami sanggup mengangkat engkau menjadi raja kami, yang memegang kekuasaan diantara kami, yang memerintah kami dan kami semuanya tidak akan berani memutuskan sesuatu perkara melainkan dengan idzinmu atau dari keputusanmu. Jikalau engkau menghendaki wanita-wanita yang paling cantik, sedang engkau tidak mempunyai kekuatan untuk mencukupi keperluan mereka, maka kami sanggup menyediakan wanita-wanita bangsa Quraisy yang paling cantik diatara wanita-wanita kami, dan pilihlah sepuluh orang atau berapa saja menurut kehendakmu, dan kamilah yang akan mencukupi keperluan mereka masing-masing, dan engkau tidak usah memikirkan keperluan mereka itu. Jikalau engkau sedang sakit, maka kami sanggup mengikhtiarkan obat dengan harta benda kami sampai engkau menjadi sehat kembali, sekalipun untuk itu harta benda kami habis, asalkan engkau sehat kembali, tidak apalah. Dan jikalau engkau menghendaki atau menginginkan hal-hal yang lain selain hal-hal itu, maka cobalah engkau katakan kepadaku, asal engkau mau menghentikan perbuatanmu seperti yang sudah-sudah ! Cobalah engkau katakan kepadaku, pilihlah salah satu dari hal-hal yang telah aku katakan, mana yang engkau suka, katakanlah padaku".
Ketika 'Utbah berkata-kata begitu, Nabi SAW diam sambil mendengarkan. Setelah itu beliau bertanya : "Apakah sudah selesai hal-hal yang engkau katakan kepadaku ?".
'Utbah menjawab : "Ya, saya selesaikan sekian dulu".
Lalu Nabi SAW bersabda, "Baiklah sekarang saya minta engkau mendengarkan perkataanku, sebagai jawaban kepadamu. Sukakah engkau mendengarkannya ?".
'Utbah menjawab, "Baiklah katakanlah kepadaku sekarang juga !".
Nabi SAW lalu membaca ayat-ayat Al-Qur'an firman Allah yang telah diturunkan kepada beliau beberapa hari yang lalu :
حم، تَنْزِيْلٌ مِّنَ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ،كـِتبٌ فُصِّلَتْ ايـتُه قُرْانـًا عَرَبـِيًّا لِّـقَوْمٍ يَّـعْلَمُوْنَ، بَشِيْرًا وَّنــَذِيْرًا، فَاَعْرَضَ اَكْـثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُوْنَ. وَقَالُوْا قُلُوْبـُنَا فِيْ اَكِـنَّةٍ  مِّمَّا تَدْعُوْنـَآ اِلَيْهِ وَ فِيْ اذَانِـنَا وَقْرٌ وَّ مِنْ بَيْنـِنَا وَ بَـيْنـِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّـنـَا عمِلُوْنَ. قُلْ اِنَّمَا اَنـَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يـُوْحى اِلَيَّ اَنـَّمَآ اِلـهُكُمْ اِلهٌ وَّاحِدٌ فَاسْتَقِيْمُوْا اِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ، وَ وَيـْلٌ لِّلْمُشْرِكِـيْنَ.اَلـَّذِيْنَ لاَ يـُؤْتُوْنَ الزَّكوةَ وَ هُمْ بِاْلا خِرَةِ هُمْ كـفِرُوْنَ. اِنَّ الَّذِيْنَ امَنُوْا وَعَمِلُوا الصّلِحتِ لَـهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ. قُلْ اَئـِـنَّكُمْ  لَـتَكْـفُرُوْنَ بِالَّذِيْ خَلَقَ اْلاَرْضَ فِى يَوْمَيْنِ وَ تَجْعَلُوْنَ لَه اَنـْدَادًا، ذلِكَ رَبُّ اْلعلَمِيْنَ. وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقـِهَا وَ بـرَكَ فِيْهَا وَ قَدَّرَ فِيْهَآ اَقْوَاتـَهَا فِيْ اَرْبـَعَةِ اَيـَّامٍ سَوَآءً لِّلسَّـآئِـلِـيْنَ. ثُمَّ اسْتَوى اِلَى السَّمَـآءِ وَ هِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَـهَا وَ لـِلاَرْضِ ائْـتِـيَـا طَوْعًا اَوْ كَرْهًا، قَالَـتَـآ اتَـيْـنَا طَآئِعِيْنَ. فَـقَضهُـنَّ سَبْعَ سَموَاتٍ فِيْ  يَوْمَيْنِ وَ اَوْحى فِيْ كُلِّ سَمَآءٍ اَمْرَهَا، وَ زَيـَّنَّا السَّـمَآءَ الدُّنـْيَا بِمَصَابِيْحَ وَ حِفْظًا، ذلِكَ تَـقْدِيْرُ اْلعَزِيْزِ اْلعَلِيْمِ. فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَـقُلْ اَنـْذَرْتُكُمْ صعِقَةً مِّثْلَ صعِقَةِ عَادٍ وَّ ثَمُوْدَ. اِذْ جَآءَتْهُمُ الرُّ سُلُ مِنْ بَـيْنِ اَيـْدِيْهِمْ وَ مِنْ خَلْفِهِمْ اَلاَّ تـَعْـبُدُوْا اِلاَّ  اللهَ، قَالُوْا لَوْ شَآءَ رَبـُّنَا لاَنــْزَلَ مَلـئِكَةً فَاِنـَّا بِمَآ اُرْسِلْـتُمْ بِه كـفِرُوْنَ. فصلت:1-14
Haa Miim, Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (dari padanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, "Hati kami tertutup dari apa yang kamu serukan kami kepadanya, di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka berbuatlah (sekehendak kamu) sesungguhnya kami akan berbuat (pula)". Katakanlah, "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah berpegang teguh kepada agama-Nya dan mohon ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(Nya), (yaitu) orang-orang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya". Katakanlah, "Apakah sesungguhnya patut kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya ? (Yang bersifat) demikin itulah Tuhan semesta alam". Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa", keduanya menjawab, "Kami akan datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling maka katakanlah, "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan kaum Tsamud". Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang (menyerukan), "Janganlah kamu menyembah selain Allah". Mereka menjawab, "Kalau tuhan kami menghendaki tentu Dia akan menurunkan Malaikat-malaikat-Nya, maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya". [Fushshilat : 1 - 14].
Baru sampai sekian Nabi SAW membaca ayat-ayat Al-Qur'an, maka dengan segera 'Utbah memotongnya, "Cukuplah Muhammad, cukuplah sekian dulu Muhammad, cukuplah sekian saja ! Apakah engkau dapat menjawab dan berkata dengan yang lain selain dari itu ?".
Nabi SAW menjawab, "Tidak !".

'Utbah bin Rabi'ah lalu diam, tidak dapat berkata lebih lanjut, semua yang hendak dikatakan, hilang musnah dengan sendirinya, segala rencana yang hendak dikemukakan untuk memperdayakan Nabi SAW lenyap dengan tidak disangka-sangka, bahkan hatinya sangat tertarik oleh bacaan yang didengarnya dari Nabi SAW. Oleh sebab itu, dengan segera ia lalu pulang ke rumahnya dengan membawa suatu perasaan yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "RINTANGAN DAKWAH ZAMAN NABI SAW."

Posting Komentar