3/25/2018

Perang Hunain (lanjutan)

Perang Hunain
(lanjutan)

Setelah 'Abbas menyeru para shahabat yang pernah ikut Baiatur Ridwan dan menyeru pula kepada shahabat-shahabat Anshar, maka para shahabat tersebut pun menyambut baik seruan beliau. Dan setelah Rasulullah SAW melemparkan batu-batu kerikil ke arah orang-orang kafir, maka musuh pun melemah. Dan Allah pun memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, sehingga akhirnya mereka terkalahkan dan lari tunggang-langgang meninggalkan medan pertempuran. Kaum muslimin lalu terus mengejar mereka sambil membunuh dan menangkap sebagian dari mereka sebagai tawanan.
Bukhari meriwayatkan :
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ حُنَيْنٍ اَقْبَلَتْ هَوَازِنُ وَ غَطَفَانُ وَ غَيْرُهُمْ بِنَعَمِهِمْ وَ ذَرَارِيْهِمْ وَ مَعَ النَّبِيّ ص عَشَرَةُ آلاَفٍ وَ مِنَ الطُّلَقَاءِ فَاَدْبَرُوْا عَنْهُ حَتَّى بَقِيَ وَحْدَهُ فَنَادَى يَوْمَئِذٍ نِدَاءَيْنِ لَمْ يَخْلِطْ بَيْنَهُمَا اِلْتَفَتَ عَنْ يَمِيْنِهِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ اْلاَنْصَارِ، قَالُوْا: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَبْشِرْ نَحْنُ مَعَكَ، ثُمَّ اْلتَفَتَ عَنْ يَسَارِهِ فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ اْلاَنْصَارِ. قَالُوْا: لَبَّيْكَ يَا رَسُوْلَ للهِ، اَبْشِرْ نَحْنُ مَعَكَ. وَ هُوَ عَلَى بَغْلَةٍ بَيْضَاءَ فَنَزَلَ فَقَالَ: اَنَا عَبْدُ اللهِ وَ رَسُوْلُهُ. فَانْهَزَمَ اْلمُشْرِكُوْنَ فَاَصَابَ يَوْمَئِذٍ غَنَائِمَ كَثِيْرَةً. البخارى 5: 106
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Ketika terjadi perang Hunain, maka qabilah Hawazin, Ghathafan dan yang lainnya menghadapi musuh dengan membawa hewan ternak mereka dan anak cucu mereka, sedang Nabi SAW bersama sepuluh ribu tentara dan beberapa tawanan yang telah dilepaskan. Lalu mereka (pasukan muslimin)  mundur dari beliau, sehingga beliau tertinggal sendirian. Lalu beliau berseru dua kali dengan tidak membaurkan diantara kedua seruan itu. Beliau menoleh ke kanan, lalu bersabda, "Wahai kaum Anshar". Mereka lalu menjawab, "Kami sambut panggilanmu, ya Rasulullah, bergembiralah, kami bersamamu". Kemudian beliau menoleh kekiri, lalu bersabda, "Wahai kaum Anshar". Mereka menjawab, "Kami sambut panggilanmu, ya Rasulullah, bergembiralah, kami bersamamu". Dan beliau diatas baghalnya yang berwarna putih, lalu turun dan bersabda, "Aku adalah hamba Allah dan utusan-Nya". Lalu orang-orang musyrik terkalahkan, maka pada hari itu beliau memperoleh rampasan yang banyak. [HR. Bukhari juz 5, hal. 106]

Pada peperangan ini Rasulullah SAW mengumumkan, "Barangsiapa yang telah membunuh seorang musuh dengan memberikan bukti yang kuat, maka ia berhak atas barang yang melekat di tubuh musuh yang terbunuh itu".
Bukhari meriwayatkan sebagai berikut : Dari Abu Qatadah, ia berkata : Ketika terjadi peperangan Hunain, saya melihat seorang laki-laki muslim memerangi seorang laki-laki musyrik, sedang seorang musyrik yang lain membidik dia dari belakang untuk membunuhnya. Maka saya segera menuju orang yang membidik tersebut, lalu orang itu mengangkat tangannya untuk memukulku (dengan pedang), dan aku memukul tangannya dengan pedang hingga putus. Kemudian orang itu memegangku dan memelukku dengan pelukan yang kuat, sehingga aku khawatir celaka, lalu ia kendorkan, hingga terlepas. Dan saya mendorongnya, kemudian saya membunuhnya. Pada waktu itu kaum muslimin terdesak (ke belakang) dan sayapun ikut terdesak bersama mereka, tiba-tiba 'Umar berada diantara orang-orang. Lalu saya bertanya kepadanya, "Bagaimana keadaan teman-teman ?". Ia menjawab, "Itu urusan Allah". Kemudian para shahabat kembali kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, "Barangsiapa dapat mendatangkan tanda bukti atas seseorang yang dibunuhnya, maka ia berhak mendapat lucutan pakaian orang yang dibunuh itu". Maka saya berdiri untuk mencari tanda bukti atas orang yang saya bunuh, saya tidak melihat seseorang yang akan bersaksi untukku, lalu saya duduk. Kemudian ada pemikiran bagiku, lalu saya menyebutkan urusannya kepada Rasulullah SAW. Lalu ada seorang laki-laki dari teman duduk beliau berkata, "Senjata orang yang terbunuh yang ia sebutkan ini ada padaku, maka relakanlah untuknya". Kemudian Abu Bakar berkata, "Janganlah demikian, beliau tidak memberikannya kepada (seorang laki-laki lemah bagaikan) burung usaibigh, sedang beliau membiarkan (seorang laki-laki pemberani bagaikan) singa Allah yang berperang karena Allah dan Rasul-Nya". Abu Qatadah berkata, "Lalu Rasulullah SAW berdiri dan memberikannya kepadaku, lalu dengan lucutan orang yang terbunuh itu saya membeli kebun kurma. Maka itulah harta yang pertama kali saya jadikan modal pokok di dalam Islam". [HR. Bukhari juz 5, hal. 101]
Setelah kaum musyrikin merasa tidak tahan lagi bertempur melawan kaum muslimin, lalu mereka melarikan diri. Mereka lari tunggang-langgang dan kocar-kacir karena ingin menyelamatkan diri masing-masing. Dan akhirnya mereka berpencar menjadi tiga golongan. Segolongan melarikan diri ke Nakhlah, sebagian melarikan diri ke Authas dan segolongan lagi melarikan diri ke Thaif. Dan pertempuran di Hunain itu akhirnya berakhir dimenangkan pihak kaum muslimin.
Kemenangan yang didapat oleh kaum muslimin pada perang Hunain ini selain dapat mengusir musuh juga dapat menawan tentara musuh, mendapat rampasan 24.000 ekor unta, 40.000 ekor kambing dan 4.000 uqiyah perak. Tawanan itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Oleh Nabi SAW semua itu diperintahkan supaya dikumpulkan di lembah dusun Ji'ranah, dan supaya dipelihara dengan baik sambil menanti selesainya semua urusan yang dilakukan tentara muslimin, terutama mengejar musuh yang melarikan diri.
Tentara Islam dikirim ke Authas
Kemudian Nabi SAW mengerahkan satu pasukan tentara Islam yang dikepalai oleh shahabat Abu 'Amir Al-Asy'ariy ke lembah Authas yang terletak di dusun kabilah Hawazin, antara Hunain dan Thaif, dengan tugas mengejar tentara musuh yang melarikan diri dari pertempuran di Hunain ke dusun tersebut.
Abu 'Amir Al-Asy'ariy lalu berangkat bersama pasukannya untuk mengejar musuh ke Authas. Setelah sampai di tempat tujuan, mereka bertemu dengan rombongan tentara musuh, lalu terjadi pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Pada pertempuran itu dalam waktu yang singkat Abu 'Amir dapat membunuh sembilan orang tentara musuh. Namun akhirnya ia terkena dua panah, satu di dadanya dan yang satu lagi di lututnya, lalu ia jatuh dengan luka parah. Maka bendera Islam dengan cepat diambil oleh Abu Musa Al-Asy'ariy keponakannya, sehingga komando pertempuran dilakukan oleh Abu Musa Al-Asy'ariy.
Sebelum Abu Musa meneruskan pertempuran, ia mencabut anak panah yang menancap di lutut Abu 'Amir tersebut, dan sesudah itu Abu 'Amir menyampaikan pesan kepadanya agar Abu Musa menyampaikan salamnya kepada Nabi SAW, dan beliau dimohon untuk memohonkan ampunan untuk dirinya kepada Allah SWT. Semua pesan itu didengar dengan baik oleh Abu Musa. Dan setelah itu wafatlah Abu 'Amir sebagai syahid.
Kemudian pasukan tentara Islam bertempur lagi dengan pasukan musyrikin tersebut, sehingga terjadi pertempuran sengit. Tetapi dalam waktu singkat pertempuran berakhir dengan kemenangan pasukan muslimin, karena pihak musuh serentak mundur dan melarikan diri dari tempat tersebut ke tempat lainnya.
Dan setelah dua orang yang memanah Abu 'Amir diketahui oleh Abu Musa, lalu keduanya dikejar oleh Abu Musa, dan akhirnya keduanya bisa dibunuh oleh Abu Musa. Setelah itu tentara musyrikin bubar melarikan diri ke tempat lain sehingga tentara Islam mendapat kemenangan dan mendapat harta rampasan, kemudian tentara Islam segera kembali ke Hunain.
Bukhari meriwayatkan sebagai berikut :
عَنْ اَبِى مُوْسَى رض قَالَ: لَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ ص مِنْ حُنَيْنٍ بَعَثَ اَبَا عَامِرٍ عَلَى جَيْشٍ اِلىَ اَوْطَاسٍ. فَلَقِيَ دُرَيْدَ بْنَ الصّمَّةِ فَقُتِلَ دُرَيْدٌ وَ هَزَمَ اللهُ اَصْحَابَهُ. قَالَ اَبُوْ مُوْسَى: وَ بَعَثَنِى مَعَ اَبِى عَامِرٍ فَرُمِيَ اَبُوْ عَامِرٍ فِى رُكْبَتِهِ رَمَاهُ جُشَمِيٌّ بِسَهْمٍ فَاَثْبَتَهُ فِى رُكْبَتِهِ فَانْتَهَيْتُ اِلَيْهِ فَقُلْتُ: يَا عَمّ مَنْ رَمَاكَ؟ فَاَشَارَ اِلَى اَبِى مُوْسَى فَقَالَ: ذَاكَ قَاتِلِى الَّذِى رَمَانِى. فَقَصَدْتُ لَهُ فَلَحِقْتُهُ. فَلَمَّا رَآنِى وَلَّى فَاتَّبَعْتُهُ وَ جَعَلْتُ اَقُوْلُ لَهُ: اَلاَ تَسْتَحِى، اَلاَ تَثْبُتُ. فَكَفَّ فَاخْتَلَفْنَا ضَرْبَتَيْنِ بِالسَّيْفِ فَقَتَلْتُهُ. ثُمَّ قُلْتُ ِلاَبِى عَامِرٍ: قَتَلَ اللهُ صَاحِبَكَ. قَالَ: فَانْزِعْ ه?ذَا السَّهْمَ، فَنَزَعْتُهُ فَنَزَا مِنْهُ اْلمَاءُ. قَالَ: يَا ابْنَ اَخِى، اَقْرِئِ النَّبِيَّ ص السَّلاَمَ وَ قُلْ لَهُ اِسْتَغْفِرْلِى، وَ اسْتَخْلَفَنِى اَبُوْ عَامِرٍ عَلَى النَّاسِ. فَمَكَثَ يَسِيْرًا ثُمَّ مَاتَ. فَرَجَعْتُ فَدَخَلْتُ عَلَى النَّبِيّ ص فِى بَيْتِهِ عَلَى سَرِيْرٍ مُرْمَلٍ وَ عَلَيْهِ فِرَاشٌ قَدْ اَثَّرَ رِمَالُ السَّرِيْرِ فِى ظَهْرِهِ وَ جَنْبَيْهِ فَاَخْبَرْتُهُ بِخَبَرِنَا وَ خَبَرِ اَبِى عَامِرٍ وَ قَالَ قُلْ لَهُ اِسْتَغْفِرْ لِى. فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ اَبِى عَامِرٍ، وَ رَأَيْتُ بَيَاضَ اِبْطَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيْرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ. فَقُلْتُ وَلِى فَاسْتَغْفِرْ. فَقَالَ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ. وَ اَدْخِلْهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مُدْخَلاً كَرِيْماً. البخارى 5: 101
Dari Abu Musa RA, ia berkata, "Ketika Nabi SAW selesai dari peperangan Hunain, beliau mengutus Abu 'Amir memimpin pasukan perang ke Authas. Lalu ia bertemu dengan Duraid bin Shimmah, lalu Duraid terbunuh dan Allah juga mengalahkan teman-temannya". Abu Musa berkata, "Dan beliau mengutusku bersama Abu 'Amir, lalu Abu 'Amir terkena panah pada lututnya. Ia dipanah oleh seorang dari qabilah Jusyam, sehingga anak panah itu menancap pada lututnya. Saya datang kepadanya, lalu saya bertanya, "Wahai pamanku, siapakah yang memanahmu ?". Lalu ia menunjukkan kepada Abu Musa dan berkata, "Itulah orang yang akan membunuhku dan dialah yang memanahku". Lalu saya menuju kepadanya dan bertemu dengannya. Ketika ia melihatku, maka ia berpaling, lalu saya mengikutinya dan berkata kepadanya, "Mengapa kamu tidak malu, mengapa kamu tidak punya pendirian ?". Lalu ia berhenti. Kemudian kami bergantian memukulkan pedang dua kali, lalu saya membunuhnya. Kemudian saya berkata kepada Abu 'Amir, "Allah telah membunuh temanmu". Ia berkata, "Cabutlah anak panah ini". Maka saya mencabutnya, lalu memancarlah air darinya. Ia berkata, "Wahai putra saudara laki-lakiku, sampaikanlah salamku kepada Nabi SAW, dan katakanah kepada beliau : Mintakanlah ampunan untukku". Dan Abu 'Amir menjadikan saya sebagai penggantinya memimpin pasukan muslimin. Lalu ia diam sejenak, kemudian ia meninggal dunia. Lalu saya kembali dan datang keapda Nabi SAW di rumah beliau, (pada waktu itu beliau) di atas tempat tidur yang dianyam dengan tali dan di atasnya terdapat hamparan. Anyaman tali tempat tidur itu membekas pada punggung dan kedua lambung beliau, lalu saya memberitahukan berita kami dan berita Abi 'Amir kepada beliau. Dan ia berkata, "Sampaikanlah kepada Nabi SAW : Mintakanlah ampunan untukku". Lalu beliau minta diambilkan air, lalu beliau berwudlu, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Ya Allah, ampunilah 'Ubaid Abu 'Amir". Dan saya melihat putihnya kedua ketiak beliau. Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ia pada hari qiyamat berada di atas kebanyakan makhluq-Mu, yakni manusia". Lalu saya berkata, "Dan untukku pula mintakanlah ampunan". Maka beliau berdoa, "Ya Allah, berilah ampunan kepada 'Abdullah bin Qais (Abu Musa) akan dosanya, dan masukkanlah ia ke tempat yang mulia pada hari qiyamat". [HR. Bukhari juz 5, hal. 101]
Wahyu Allah yang turun ketika perang Hunain
Sehubungan dengan peristiwa yang dialami oleh tentara kaum muslimin pada perang Hunain tersebut, maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi SAW sebagai berikut :
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِيْ مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍ وَّ يَوْمَ حُنَيْنٍ اِذْ اَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَّ ضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُّدْبِرِيْنَ(25) ثُمَّ اَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَه‘ عَلى? رَسُوْلِه وَ عَلَى اْلمُؤْمِنِيْنَ وَ اَنْزَلَ جُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا وَ عَذَّبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا، وَ ذ?لِكَ جَزَآءُ اْلك?فِرِيْنَ(26) ثُمَّ يَتُوْبُ اللهُ مِنْ بَعْدِ ذ?لِكَ عَلى? مَنْ يَّشَآءُ، وَ اللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ(27) التوبة: 25-27
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan pertempuran yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikitpun kepadamu, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. (25)
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan balatentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah balasan kepada orang-orang kafir. (26)
Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (27) [QS. At-Taubah : 25-27]
Ayat-ayat tersebut menerangkan bahwa :
1.  Allah telah memberi pertolongan kepada kaum muslimin pada beberapa pertempuran, dan demikian juga waktu terjadi perang di Hunain.
2.  Mulanya pada pertempuran di Hunain itu kaum muslimin dalam keadaan payah dan sulit, padahal sebelum terjadi pertempuran, mereka telah membanggakan diri, pasti akan mendapatkan kemenangan, dan tidak mungkin dikalahkan oleh musuh, karena dari besarnya jumlah mereka. Ternyata, besarnya jumlah itu tidak berguna bagi mereka sedikitpun, bahkan bumi yang luas ini terasa sempit bagi mereka, lalu mereka berpaling melarikan diri dari pertempuran.
3.  Mereka mendapatkan kemenangan gilang-gemilang di Hunain setelah diberi bantuan oleh Allah, yaitu Allah menurunkan sakinah atau ketenangan pada Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW) dan pada orang-orang yang beriman. Allah juga menurunkan tentara-Nya yang tidak terlihat oleh kaum muslimin, dan mengadzab orang-orang kafir. Dengan kata lain, andaikata Allah tidak memberi bantuan kepada kaum muslimin, nicaya mereka ketika itu mengalami kekalahan besar.

Demikianlah arti yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut, yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin.
-----=sdd=-----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LARANGAN MELAMPAUI BATAS DALAM BERAGAMA Apabila kita perhatikan di dalam dasar-dasar tasyri' yang tersebut di dalam Al-Qur'...